BisnisNews

Di Tengah Krisis Minyak Global, BPMA Sukses Lifting Perdana 45 Ribu Barel Melalui Pangkalan Susu

Banda Aceh – Di tengah krisis minyak global akibat memanasnya geopolitik dunia, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) berhasil melakukan lifting perdana kondensat Blok A sebesar 45.508,63 barel melalui Terminal PT Pertamina EP Zona I Pangkalan Susu, Sumatera Utara.

Pengapalan kondensat tersebut berlangsung pada 31 Maret hingga 1 April 2026. Ini menjadi lifting perdana melalui terminal Pangkalan Susu pasca bencana banjir dan longsor yang sebelumnya sempat mengganggu operasional di wilayah Aceh.

Keberhasilan ini menjadi penting di tengah ketidakpastian pasokan energi global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Lifting dari dalam negeri dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas dan ketahanan energi nasional.

Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, Selasa (14/4) mengatakan keberhasilan ini tak lepas dari kesiapan aspek komersial dan operasional yang telah dirancang sejak awal.

“Pengapalan kondensat Arun di Pangkalan Susu dapat terlaksana dengan baik karena perjanjian Facility Sharing Agreement (FSA) antara Pertamina EP Pangkalan Susu dan Medco E&P Malaka telah dijajaki jauh-jauh hari. Ke depan, kesepakatan FSA ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengapalan kondensat Blok A, khususnya pasca kejadian kebakaran tangki F-2101 yang menyebabkan terganggunya operasi transfer kondensat Medco E&P Malaka di Terminal Arun,” jelasnya.

Menurutnya, skema alternatif ini penting untuk menjaga fleksibilitas operasional di tengah keterbatasan fasilitas dan potensi gangguan.

Senada, Deputi Operasi BPMA Muhammad Mulyawan mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai lifting ini menunjukkan ketangguhan sektor hulu migas Aceh di tengah berbagai tantangan.

“Keberhasilan lifting Blok A via terminal Pangkalan Susu ini patut diapresiasi, terutama di tengah terganggunya operasi Medco di Terminal Arun serta kondisi AS CPP yang belum beroperasi secara maksimal. Upaya mencari alternatif pengapalan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan lifting,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberlanjutan produksi dan lifting menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya di tengah dinamika geopolitik global.

Ke depan, BPMA bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) akan terus memperkuat sinergi, baik dari sisi operasional maupun komersial, guna memastikan produksi dan distribusi energi tetap berjalan optimal meski menghadapi berbagai tantangan. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button