
Bireuen – Praktik pemungutan biaya penyeberangan yang dinilai memberatkan, ditambah keberadaan ‘hak reman’ para harlan di kawasan Kutablang, Bireuen, rupanya bukan persoalan baru. Keluhan mengenai tarif yang dianggap tidak wajar ini sudah berulang kali muncul sejak masa bencana melanda Aceh.
Beberapa relawan yang mengantar bantuan juga mengaku menghadapi hal serupa. Mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp3 juta hanya untuk menyeberangkan logistik melewati sungai di Kuta Blang, meski jaraknya tidak lebih dari 150 meter.
“Ini benar, Bang. Kami sempat kesal dan mau viralkan. Tapi karena situasinya sedang bencana, akhirnya kami tutup-tutupi,” ujar Muhammad Adam, warga Bireuen yang mengantar bantuan ke Aceh Timur melalui jalur tersebut pada Rabu (10/12).
Adam menjelaskan, tarif dasar penggunaan boat sebenarnya berada di kisaran Rp400-500 ribu untuk sekali perjalanan. Namun biaya itu kemudian melonjak karena ditambah pungutan harlan, yang besarannya berbeda antara sisi kiri dan kanan sungai.
“Totalnya bisa melebihi biaya boat itu sendiri. Kemarin kami kena patok Rp3 juta untuk sekali seberang, termasuk harlan dan boat. Kami tidak bisa angkut sendiri bantuan ke boat. Harus harlan yang menaikkan dan menurunkannya,” katanya.
Keluhan lainnya datang dari Yuslinda (34), warga Bireuen. Ia menuturkan bahwa tarif tersebut diterapkan tanpa melihat siapa pun pengguna jasa, baik relawan maupun masyarakat setempat.
“Gak mau tahu mereka. Ini yang benar-benar mencekik leher,” ujarnya.
Menurut Yuslinda, permasalahan ini sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan kepada pemerintah kabupaten. Namun ia menilai belum ada langkah nyata untuk mengatasinya.
“Pemkab sudah dilaporkan berulang kali. Tapi kayaknya tidak ada aksi apa-apa,” keluhnya. []
Rif





