
*Oleh: Avicenna Al Maududdy, M. Hum
DINAMIKA sosial Aceh yang kian kompleks antara urbanisasi, tantangan digital, serta potensi fragmentasi sosial akibat polarisasi muncul sebuah gerakan sunyi tapi berpengaruh besar: “Ngaji Sambil Ngopi.” Ini bukan sekadar forum kajian, tetapi juga praktik dakwah yang membumi dan menjadi ruang alternatif untuk membangun spiritualitas yang kontekstual, inklusif, dan terbuka umum.
Berlokasi di Warkop Kupi Nanggroe Kota banda Aceh, setiap Jumat siang dan Senin malam, pengajian ini menjadi ruang “kembali pulang” pulang pada nilai, ilmu, dan akhlak. Modelnya sederhana: Tahsin Al-Qur’an (khusus pria) pada pukul 10.00 WIB, dilanjutkan pengajian umum terbuka untuk pria dan wanita pada pukul 14.30 WIB. Namun di balik kesederhanaan format, tersimpan energi besar: rekonstruksi makna keagamaan di ruang sosial kita.
Dakwah yang Inklusif dan Menghidupi
Dalam atmosfer keagamaan yang kadang terlalu eksklusif dan formalistik, pengajian ini mematahkan tembok pemisah. Tak ada jarak antara da’i dan jamaah. Tidak ada strata sosial, semua duduk di warung kopi yang sama, mendengar, berdiskusi, menyimak. Keilmuan hadir bukan sebagai menara gading, tetapi sebagai pelita yang memandu dari dekat.
Waled Cot Trueng membimbing Tahsin dengan ketekunan, menjadi pengingat bahwa membaca Al-Qur’an dengan tartil adalah gerbang pembuka hidayah. Sementara Ust. Maula Muhammad Umar selalu menyajikan tema aktual seperti yang terbaru: “Tanah Suci & Tanah Air” yang mengajak umat mengontekstualisasikan nilai agama dengan realitas kebangsaan. Ini penting. Di saat banyak umat terbawa arus ideologisasi transnasional yang memisahkan agama dari nasionalisme, pengajian ini justru memperkuat bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman.
Mengembalikan Fungsi Warung Kopi sebagai Forum Ummah
Secara sosiologis, warung kopi di Aceh lebih dari sekadar tempat santai ia adalah ruang demokratis rakyat. “Ngaji Sambil Ngopi” memanfaatkan potensi itu. Dakwah tidak harus berada di dalam masjid atau aula mewah, tetapi justru efektif ketika dibawa ke ruang yang akrab bagi rakyat. Ini sejalan dengan model prophetic communication yang dilakukan Rasulullah SAW berdakwah di pasar, rumah, dan tempat-tempat umum. Artinya, substansi lebih utama daripada lokasi.
Pengajian ini telah menghidupkan kembali budaya musyawarah dan diskusi yang islami. Jamaah tidak hanya datang untuk mendengar, tapi juga menyumbang pikiran, bertanya, bahkan kadang mengkritisi. Inilah wajah dakwah yang sehat dan hidup, bebas dari dogmatisasi sepihak, serta membuka pintu pertumbuhan intelektual umat secara partisipatif.
Spirit Literasi dan Kebangkitan Masyarakat Sipil
Jika kita bicara tentang kebangkitan peradaban Islam, salah satu pilar utamanya adalah budaya literasi dan penguatan masyarakat sipil berbasis komunitas. “Ngaji Sambil Ngopi” adalah wujud nyata dari konsep tersebut. Ia menjembatani gap antara agama dan realitas, antara idealisme Islam dan konteks lokal Aceh. Lebih dari itu, ia menciptakan ruang aman bagi dialog lintas usia, profesi, bahkan secara kultural lintas mazhab.
Keberanian untuk mengangkat tema seperti “Tanah Suci & Tanah Air adalah penanda bahwa pengajian ini tidak ingin terjebak dalam zona nyaman spiritual saja, tetapi juga menyentuh wilayah ideologis dan kebangsaan yang selama ini sering dihindari. Di saat sebagian umat gamang antara loyalitas keumatan dan kebangsaan, pengajian ini justru menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat bersinergi, tidak harus dipertentangkan.
“Ngaji Sambil Ngopi” adalah cermin Islam yang ramah, relasional, dan relevan. Ini bukan hanya tentang belajar agama, tetapi tentang bagaimana agama dihidupi dan dihayati secara sosial. Di tengah wacana-wacana keras dan narasi perpecahan yang kadang dibungkus agama, hadirnya pengajian ini adalah harapan: bahwa Islam tetap punya tempat di hati umat, selama ia disampaikan dengan kasih sayang, konteks, dan kepedulian.
Mari hadir. Kalau tak bisa hadir langsung, mari dengar lewat siaran daring. Karena ilmu tidak pernah mengenal batas ruang dan kebenaran selalu layak diperjuangkan, meski hanya dimulai dari secangkir kopi dan selembar ayat. []
*Penulis merupakan Dosen Tetap Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga. Penulis dapat dihubungi melalui 0853-6001-5808.



