NewsSejarah

Mengenal Sosok Panglima Wahab, Pahlawan Tiga Zaman dari Aceh Besar 

Aceh Besar – Sosok Panglima Abdul Wahab, yang lebih dikenal dengan nama Pang Hab, merupakan salah satu perintis kemerdekaan Republik Indonesia asal Aceh Besar.

Ia dikenal sebagai pejuang tangguh dalam Perang Sabil yang turut berperan dalam melawan kolonialisme di Aceh, dan tetap hidup hingga masa awal kemerdekaan Indonesia. Panglima Wahab wafat pada tahun 1963 dalam usia 101 tahun dan dimakamkan di Gampong Leupung Bale, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.

Cucu Panglima Wahab, Faisal Sani Akbar bin Ismail bin Abdul Wahab, menuturkan bahwa kakeknya merupakan salah satu tokoh pejuang yang menerima penghargaan langsung dari Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

“Atas jasa perjuangannya, kakek kami dianugerahi Tanda Kehormatan Setya Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan RI oleh negara, dengan Nomor SK: MENSOS POL 3/V/74/PK. Saat ini, piagam tersebut terpahat pada prasasti di makam beliau,” ujar Faisal, Rabu (28/5/2025).

Panglima Wahab lahir pada tahun 1862 di Kampung Keumire, Kecamatan Seulimuem (kini Kuta Cot Glie), Kabupaten Aceh Besar. Ia merupakan putra dari Pang Ibrahim, atau Pang Him, salah satu tokoh Perang Aceh yang berjuang bersama ulama karismatik Teungku Chik Muhammad Saman Tiro dan gugur dalam pertempuran melawan Belanda.

Sejak kecil, Wahab tumbuh di tengah keluarga pejuang. Setelah ayahnya gugur, ia diangkat menjadi anak oleh Panglima Polem Teuku Cut Banta, pemimpin Sagoe (Divisi) XXII Mukim. Di bawah asuhan tersebut, Wahab dididik sebagai prajurit hingga menjadi mujahid tangguh dan dipercaya menjabat sebagai Ulee Balang, atau komandan batalion Sagoe XXII Mukim, oleh Panglima Teungku Raja Kuala.

“Beliau tidak hanya dikenal karena keberaniannya, tetapi juga karena kesetiaannya kepada perjuangan rakyat Aceh di berbagai era, dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan RI,” jelas Faisal.

Makam Panglima Wahab di Gampong Leupung Bale, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Selasa (27/5/2025). Foto: MC Abes

Salah satu peran penting Pang Hab dalam sejarah perjuangan terjadi menjelang kedatangan Jepang pada 1942. Ia memimpin rakyat Aceh dalam Pertempuran Keumire, yang berlangsung di kawasan Seulimuem, Aceh Besar, bersama tokoh-tokoh penting seperti A. Hasjmy, Teungku Hasballah Indrapuri, dan Ahmad Abdullah.

Perjuangan panjangnya tak luput dari perhatian negara. Pada 17 Agustus 1961, Presiden Soekarno secara resmi menganugerahkan Piagam Tanda Kehormatan Setya Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Aceh saat itu, A. Hasjmy, atas nama Presiden Republik Indonesia.

“Pada hari itu, Bintang Tanda Jasa disematkan di dada kakek kami, Pang Wahab Keumire. Itu adalah bentuk penghargaan negara atas perjuangan beliau yang lintas generasi,” ungkap Faisal dengan bangga.

Panglima Wahab menghembuskan napas terakhir pada usia 101 tahun dan kini dimakamkan di tempat yang menjadi saksi bisu perjuangannya: Gampong Leupung Bale, Kecamatan Kuta Cot Glie. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button