HukumNews

Keluarga Korban Temukan Kejanggalan Terkait Motif Pembunuhan Dhiyaul

Banda Aceh – Keluarga Dhiyaul Fuadi, korban pembunuhan yang terjadi di Desa Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh pada Sabtu (19/10/2024) lalu, menemukan sejumlah kejanggalan terkait motif pembunuhan sang adik.

“Kami pihak keluarga menduga ini ada motif lain di balik faktor ekonomi,” kata Hafsari Ayu, kakak ipar korban, saat konferensi pers di Sekber Jurnalis Banda Aceh, Jumat (25/10/2024).

Hafsari mengaku tak masuk akal jika pelaku tega menghabisi adik iparnya hanya gara-gara ekonomi. Sebab, dari penelusuran yang dilakukan, pelaku berasal dari kalangan ekonomi menengah atas.

“Informasi yang kita dapatkan dari beberapa masyarakat yang berada di wilayah Peudada, pelaku ini bukan berasal dari kalangan menengah ke bawah, tapi dia berasal dari menengah ke atas, kami menduga ini tidak serta merta faktor ekonomi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Hafsari meminta kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki lebih dalam lagi motif pembunuhan tersebut.

“Kami selaku keluarga dari korban memohon kepada pihak kepolisian jangan berpuas diri dengan kondisi ini, mungkin hingga saat ini, kita dan masyarakat juga mengapresiasi pihak kepolisian yang berhasil menemukan pelaku dalam waktu tidak sampai 24 jam,” katanya.

Hal senada disampaikan Muhammad Ramadhanur Halim, abang sepupu korban. Ia meminta pihak kepolisian untuk mendalami motif pembunuhan tersebut.

“Sepertinya agak aneh motif yang seperti ini (ekonomi), mungkin ada motif lain, yang perlu didalami,” katanya.

Dikatakan Halim, kejanggalan lainnya yang ditemukan keluarga adalah antara korban dan pelaku tidak kenal secara langsung.

“Pelaku sebelum itu tidak pernah hadir dalam kehidupan korban,” ujar Halim.

Dalam kesempatan itu, Halim juga meminta masyarakat untuk memberikan informasi yang dapat membantu menerangi kasus yang menimpa adiknya.

“Tolong beri informasi yang sifatnya untuk menerangi kasus ini kepada kami keluarga dan pihak kepolisian. Kami punya akun Instagram @justice_for_dhiyaulfuadi, mohon disampaikan melalui akun ini,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, digegerkan dengan penemuan mayat di salah satu rumah kos di desa itu, Sabtu (19/10/2024). Mayat ini diduga korban pembunuhan.

Belakangan diketahui jika mayat tersebut adalah berinisial D atau Dhiyaul Fuadi (20), mahasiswa asal Kabupaten Aceh Barat. Saat ditemukan, Dhiyaul dalam kondisi bersimbah darah.

Tak butuh waktu lama, pelaku akhirnya ditangkap oleh personel Satreskrim Polresta Banda Aceh pada Minggu (20/10/2024) dini hari atau kurang dari 24 jam pasca kejadian

“Terduga pelaku adalah ZF, 20 tahun, berasal dari Peudada, Bireuen,” kata Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Fadillah Aditya Pratama dalam konferensi pers di markas kepolisian setempat, Senin (21/10/2024).

Fadillah mengatakan, pelaku ditangkap di Asrama Mahasiswa Peudada yang berada di Kota Banda Aceh pada Minggu (20/10/2024) pukul 03.00 WIB. ZF ditangkap setelah polisi melakukan serangkaian penyelidikan.

“Setelah penyelidikan diketahui ZF tinggal di Asrama Mahasiswa Peudada. Setelah kita pastikan, kita langsung menuju lokasi tersebut dan ada orangnya, sempat kita lakukan interogasi awal, Alhamdulillah mengaku dan memang betul dia melakukan perbuatan tersebut,” ungkap Fadillah.

Dari interogasi awal, Fadillah mengungkapkan bahwa motif pembunuhan tersebut berkaitan dengan ekonomi. Kepada polisi, pelaku mengaku mengalami kesulitan finansial, padahal ia berencana pulang ke kampung halamannya di Peudada.

“Pelaku di hari Sabtu itu ingin pulang kampung, namun dia tidak punya uang,” jelas mantan Kasat Reskrim Polres Bireuen itu.

Kepada polisi, pelaku juga mengakui sebelum kejadian tersebut dirinya sempat ke rumah neneknya di Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar dengan maksud meminta uang.

“Namun saudaranya nggak ada dan neneknya juga tidak memiliki uang, akhirnya pelaku tidak bisa mendapatkan uang di situ. Pelaku kemudian terbesit ke kos korban untuk mencuri,” ungkapnya.

Kata Fadillah, setibanya di kosan, pelaku menemukan pintu tidak terkunci. Ia masuk dan mendapati korban sedang tidur.

“Saat melihat handphone tergeletak di samping korban, pelaku merasa khawatir jika korban terbangun. Dalam situasi panik, ia kemudian melihat pisau di sebelah kasur korban tidur, jadi pisau itu memang pisau yang ada di kosan itu, di situ ada meja piring yang biasanya digunakan untuk makan dan pelaku membuat keputusan untuk membunuh korban,” katanya.

Fadillah menyampaikan bahwa pelaku berencana menggunakan hasil pencurian handphone untuk menggadaikan atau menjualnya sebagai biaya pulang kampung.

“Rencana kalau nanti berhasil mencuri handphone itu akan digadai atau dijual dan hasilnya untuk pulang kampung,” jelasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button