
Banda Aceh – Bagi sebagian orang, wisuda adalah penanda berakhirnya perjalanan panjang di bangku kuliah. Bagi Fadillah Nahda, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan berikutnya.
Rabu (7/10), Fadillah diwisuda bersama ratusan wisudawan lainnya di Auditorium Prof Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia mengenakan toga dan menerima ijazah setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Namun, pikirannya tidak berhenti pada gelar sarjana. Ia memikirkan Aceh Singkil, daerah asalnya yang berjarak sekitar 16 jam perjalanan dari Banda Aceh. Di sana, ia ingin membawa pulang ilmu yang diperolehnya selama empat tahun di perantauan.
“Saya ingin membawa pulang dan mengaplikasikan pengetahuan ini ke Aceh Singkil,” kata Fadillah.
Ia ingin ikut meningkatkan literasi matematika anak-anak di daerah asalnya, mendorong generasi muda agar berani melanjutkan pendidikan tinggi, serta suatu hari membantu menghadirkan solusi berbasis data untuk persoalan di daerah.
Bagi Fadillah, ilmu tidak seharusnya berhenti di lembaran ijazah. Keinginan itu bukan muncul setelah toga melekat di tubuhnya.
Selama kuliah, Fadillah sudah terbiasa berbagi ilmu. Ia mengajar dan membimbing siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Ia juga mendampingi mereka mengikuti berbagai kompetisi.
Baginya, mengajar bukan sekadar aktivitas tambahan di tengah kesibukan kuliah. Ia menikmati momen ketika seorang anak yang semula kesulitan memahami matematika akhirnya mengerti. Begitu pula ketika siswa yang dibimbingnya mulai percaya diri tampil dalam sebuah kompetisi.
Momen-momen tersebut membuat Fadillah semakin yakin bahwa ilmu yang dipelajarinya akan kehilangan makna jika hanya digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Pendidikan, menurut dia, seharusnya membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak orang. Karena itu, ia ingin terus mengajar. Bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan pengetahuan yang kelak dibawanya kembali ke Aceh Singkil.
Jalan Fadillah hingga sampai pada titik itu tidak sepenuhnya mudah. Sebagai anak daerah yang merantau dari Aceh Singkil ke Banda Aceh, ia mengaku tantangan terbesar pada awal perkuliahan justru datang dari dalam dirinya.
Ia mengalami imposter syndrome, merasa minder dan meragukan kemampuan diri sendiri. Ada kekhawatiran bahwa latar belakang pendidikan dari daerah yang ia sebut sebagai wilayah 3T membuatnya tidak mampu bersaing dengan mahasiswa lain yang memiliki akses fasilitas dan persiapan lebih baik. Namun, ia memilih tidak membiarkan rasa minder itu menentukan masa depannya.
Fadillah mulai membangun rutinitas yang lebih disiplin, memperluas pertemanan dengan lingkungan yang positif, dan berhenti terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ia memilih fokus pada proses. Pelan-pelan, keraguan itu berubah menjadi keyakinan bahwa kerja keras, ketekunan, dan kemauan belajar dapat menjembatani keterbatasan. Hasilnya, ia menyelesaikan kuliah dengan IPK 3,69.
Selain belajar, Fadillah aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan akademik. Ia pernah menjadi Ketua Genre Kabupaten Aceh Singkil, fasilitator Forum Anak Aceh Singkil, Duta Gender Program Studi Pendidikan Matematika, serta Bendahara Umum SEMA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat pendidikan bukan sekadar proses mendapatkan gelar. Pendidikan adalah kesempatan untuk tumbuh dan kemudian memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh.
“Tahan, Nak. Demi cita-cita” Ada satu kalimat yang selalu ia ingat selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. “Tahan, Nak. Demi cita-cita.” Kalimat itu datang dari ibunya.
Fadillah masih mengingat saat-saat ketika rasa rindu kepada keluarga begitu kuat. Terutama ketika Ramadan harus dilalui jauh dari rumah.
Ia berbuka dengan makanan sederhana di kamar kos. Suara azan dari masjid di Banda Aceh terkadang justru membuat kerinduan kepada kampung halaman semakin terasa.
Pada saat-saat seperti itu, pesan ibunya kembali terngiang. “Tahan, Nak. Demi cita-cita.”
Bagi Fadillah, pesan tersebut bukan hanya ajakan untuk bersabar. Ada harapan orang tua di dalamnya. Ada pengorbanan keluarga yang membuatnya sadar bahwa kesempatan kuliah yang ia dapatkan tidak boleh disia-siakan.
Karena itu, ketika malam-malam panjang penyusunan skripsi datang dan keinginan untuk menyerah muncul, ia kembali mengingat pesan tersebut.
Sampai akhirnya ia di wisuda.
Aceh Singkil tetap menjadi bagian penting dari cara Fadillah melihat masa depan. Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan, ia bercerita tentang daerah asalnya, termasuk Kepulauan Banyak dan hutan rawa Singkil. Ia juga menyebut Syekh Abdurrauf as-Singkili atau Teungku Syiah Kuala yang lahir dari tanah Aceh Singkil.
Baginya, daerah tidak semestinya menjadi batas bagi seseorang untuk bermimpi. Ia ingin anak-anak muda di Aceh Singkil dan daerah pelosok lainnya percaya bahwa keterbatasan fasilitas tidak berarti keterbatasan potensi.
“Dari mana pun kita berasal, dan sejauh apa pun jalan yang telah kita tempuh, hari ini kita membuktikan satu hal yakni jarak tidak pernah bisa menghentikan mereka yang mau berjuang,” katanya.
Kini, setelah empat tahun merantau, Fadillah bersiap membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar gelar.
Ia membawa pengalaman, pengetahuan, dan keinginan untuk mengajar.
Di kampung halamannya, masih ada anak-anak yang mungkin sedang belajar matematika dengan segala keterbatasannya. Ada pula anak muda yang mungkin masih ragu apakah mereka bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Fadillah ingin berada di antara mereka. Ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang membuka pintu itu. Sebab baginya, rumah sejati ilmu pengetahuan bukanlah lembaran ijazah, melainkan tempat ketika ilmu itu kembali dan memberi manfaat. Dan bagi Fadillah, tempat itu adalah Aceh Singkil. [ ]





