Lifestyle

Minggu Ketiga MBG di Lapangan Sadakata: Ketika Buku Gratis Menjadi Ruang Belajar dan Berbagi

Subulussalam – Minggu ketiga pelaksanaan Lapak Baca Buku Gratis atau yang disingkat MBG (Membaca Buku Gratis) kembali dilaksanakan di Lapangan Sadakata, Kota Subulussalam, Aceh, pada Minggu (16/8). Kegiatan yang menghadirkan berbagai jenis bacaan gratis ini kembali menjadi ruang sederhana bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk mengenal buku dan membangun kebiasaan membaca.

Bagi saya, kegiatan hari ini cukup berkesan. Bukan hanya karena jumlah peserta yang hadir cukup ramai, tetapi juga karena ada interaksi kecil yang justru memberikan makna besar. Di tengah kegiatan, datang dua orang anak yang ternyata merupakan kakak beradik. Sang kakak merupakan siswi kelas satu sekolah dasar, sedangkan adiknya masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Dengan polos mereka bertanya, “Kak, baca bukunya gratis? Boleh baca buku?”

Pertanyaan sederhana itu kemudian kami jawab dengan senang hati, “Boleh. Gratis.”

Mereka pun mulai memilih buku yang ingin dibaca. Salah satu buku yang mereka pilih adalah buku “Jangan Lama-Lama di Kamar Mandi”. Saya kemudian membacakan dan menceritakan isi buku tersebut kepada mereka dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. Dari interaksi tersebut, saya kembali menyadari bahwa ketertarikan anak-anak terhadap buku sebenarnya ada. Terkadang yang mereka butuhkan hanyalah ruang, kesempatan, dan orang-orang yang mau mendampingi mereka untuk membaca.

Kegiatan hari ini juga semakin terasa bermakna karena dihadiri oleh berbagai pihak dan komunitas. Hadir perwakilan BEM STIT HAFAS Subulussalam, perwakilan Perpustakaan Penuntungan bersama Bunda Fitri, serta teman-teman mahasiswa dari kampus lain yang sedang menikmati masa libur dan memilih untuk ikut membersamai kegiatan MBG.

Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak harus berjalan sendiri. Mahasiswa, komunitas, perpustakaan, maupun masyarakat dapat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang lebih dekat dengan buku dan aktivitas membaca.

Namun, di balik kesan positif tersebut, pelaksanaan MBG pada minggu ketiga ini juga memberikan banyak bahan evaluasi. Kami menyadari bahwa kegiatan ini masih membutuhkan berbagai perbaikan agar dapat berjalan lebih terarah dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Tidak cukup hanya menyediakan buku dan membuka lapak baca setiap minggu. Program ini perlu dikemas lebih menarik, dipromosikan secara lebih luas, serta diperkenalkan kembali kepada masyarakat.

Dalam diskusi yang dilakukan setelah kegiatan, muncul gagasan bahwa MBG perlu mendapatkan penguatan dan bahkan dapat dilakukan peluncuran kembali dengan konsep yang lebih matang. Promosi juga menjadi salah satu hal penting agar masyarakat Kota Subulussalam mengetahui bahwa terdapat sebuah gerakan sederhana yang berupaya menghadirkan ruang membaca secara gratis bagi anak-anak dan masyarakat.

Menurut saya, hal inilah yang perlu lebih diperhatikan. Sebuah program yang baik tidak akan memberikan dampak yang luas apabila keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat. Karena itu, MBG perlu lebih sering diperkenalkan melalui berbagai media dan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk komunitas, mahasiswa, sekolah, perpustakaan, hingga pemerintah daerah.

Di tengah kondisi literasi yang masih perlu terus ditingkatkan, kehadiran ruang-ruang membaca seperti MBG menjadi sesuatu yang penting. Lapangan Sadakata bukan hanya dapat menjadi tempat berkumpul atau beraktivitas, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Harapannya, MBG tidak berhenti hanya sebagai kegiatan mingguan. Lebih jauh, kegiatan ini dapat berkembang menjadi sebuah gerakan literasi yang konsisten dan mendapatkan perhatian dari masyarakat maupun pemerintah Kota Subulussalam. Sebab, meningkatkan minat baca tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari sebuah lapak kecil, beberapa buku, dan kesediaan untuk duduk bersama anak-anak sambil membaca.

Hari ini kembali mengajarkan saya bahwa satu pertanyaan sederhana dari seorang anak, “Boleh baca buku?” sebenarnya menyimpan harapan yang besar. Harapan agar anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenal buku, memperoleh pengetahuan, dan tumbuh dengan budaya membaca.

Minggu ketiga MBG akhirnya tidak hanya menjadi agenda membaca buku gratis, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berbagi, mengevaluasi, dan merancang langkah berikutnya. Semoga dari Lapangan Sadakata, gerakan kecil ini dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi di Kota Subulussalam. []

Nurjannah sehatycha
Wakil BEM STIT Hafas Kota Subulussalam

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button