News

USK Edukasi Pasien Diabetes Pascabencana di Pidie Jaya

Soroti Pentingnya Kepatuhan Terapi

Pidie Jaya – Tim Dia-Bencana (Diabetes Bencana) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar edukasi kesehatan mengenai kepatuhan terapi bagi pasien diabetes pascabencana di Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (24/7).

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang mengkaji komunikasi kesehatan, perilaku pencarian informasi terapi, hingga akses obat bagi pasien diabetes setelah bencana.

Penelitian bertajuk Dia-Bencana: Komunikasi Kesehatan dan Perilaku Pencarian Informasi Terapi dan Akses Obat pada Pasien Diabetes Pascabencana di Aceh tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK Tahun 2026.

Tim peneliti terdiri atas lima dosen USK, yakni Rizanna Rosemary, Alfi Rahman, dan Uswatun Nisa dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Sarah Firdausa dari Program Studi Ilmu Penyakit Dalam, serta Nurul Kamaly dari Program Studi Ilmu Pemerintahan.

Ketua tim penelitian, Rizanna Rosemary, mengatakan riset tersebut bertujuan melihat apakah terdapat perubahan pola akses terapi dan obat-obatan sebelum dan sesudah bencana.

Selain itu, penelitian juga mengidentifikasi sistem komunikasi kesehatan dan perilaku pencarian informasi pasien diabetes terkait terapi serta akses obat, mengukur tingkat kepatuhan terapi beserta faktor yang memengaruhinya, hingga mengkaji hambatan dan peluang komunikasi kesehatan bagi penyandang diabetes pascabencana.

“Kami ingin melihat bagaimana pasien memperoleh informasi kesehatan dan mengakses terapi setelah terjadi bencana, sekaligus mengetahui berbagai tantangan yang mereka hadapi,” kata Rizanna.

Kegiatan edukasi dihadiri Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya Eddy Azwar, Kepala Puskesmas Meurah Dua Jamaluddin, serta 50 peserta yang terdiri atas penyandang diabetes dan para pendampingnya. Kegiatan turut melibatkan Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meuredu.

Selain penyampaian materi mengenai kepatuhan terapi dan edukasi diabetes, peserta juga mengikuti survei kepatuhan terapi, pemeriksaan kesehatan, serta layanan cek gula darah gratis.

Setelah rangkaian edukasi selesai, tim Dia-Bencana akan melanjutkan penelitian melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Pidie Jaya, BPJS Pidie Jaya, tenaga kesehatan, serta para keuchik di wilayah tersebut guna memperdalam hasil penelitian.

Rizanna menilai komunikasi kesehatan masih belum banyak mendapat perhatian, padahal memiliki peran penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien menjalani terapi.

“Perilaku pencarian informasi kesehatan menjadi hal penting yang perlu dimiliki oleh pasien maupun pendampingnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya Eddy Azwar mengapresiasi pelaksanaan penelitian dan edukasi yang dilakukan Tim Dia-Bencana USK.

Menurutnya, jumlah penderita diabetes di Pidie Jaya masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang dipaparkan, terdapat 1.852 penderita laki-laki dan 1.542 penderita perempuan.

“Tim ini insyaallah akan membantu kami menangani penyakit tidak menular. Hari ini ada tiga penyakit tidak menular yang sangat serius dan harus ditangani, yaitu diabetes, hipertensi, dan jantung. Mari kita ikuti kegiatan ini dengan serius, dan kami yakin akan ada jalan keluar serta solusi yang baik, baik bagi peserta maupun pihak dinas terkait dalam penanganan diabetes,” ujar Eddy.

Anggota tim penelitian sekaligus dokter spesialis penyakit dalam, Sarah Firdausa, mengatakan diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada kesadaran pasien, tetapi juga dukungan dari keluarga atau pendamping yang berperan dalam menjaga kepatuhan terapi dan pola hidup sehat.

“Edukasi kepada pendamping juga penting karena perilaku sehari-hari sering kali menjadi faktor yang memicu maupun memperburuk diabetes,” kata Sarah.

Kegiatan edukasi berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pengalaman serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kepatuhan terapi yang mereka jalani, menandakan tingginya antusiasme terhadap upaya peningkatan pengetahuan dalam pengelolaan diabetes pascabencana. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button