
Banda Aceh – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menggelar Rapat Koordinasi Ketahanan Operasi Minyak dan Gas Bumi bersama para pemangku kepentingan di wilayah kerja Aceh.
Kegiatan yang dirangkai dengan buka puasa bersama dan santunan anak yatim itu berlangsung di kantor BPMA, Banda Aceh, Sabtu (7/3).
Kepala BPMA, Nasri Djalal mengatakan kehadiran para pemangku kepentingan dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan penting bagi penguatan sektor energi di Aceh.
“Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami BPMA, menyempatkan hadir di tengah kesibukan bapak ibu sekalian,” kata Nasri Djalal.
Ia menegaskan penguatan ketahanan energi di Aceh membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk meningkatkan sektor minyak dan gas bumi di daerah tersebut.
“Butuh dukungan dari seluruh stakeholder yang secara bersama-sama akan berupaya meningkatkan ketahanan energi sesuai dengan cita-cita atau visi misi Bapak Gubernur dan Wagub,” ujarnya.
Nasri juga menyebutkan bahwa kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antarinstansi.
“Acara buka puasa bersama ini tentu saja bukan sekadar rutinitas, kami berharap dengan adanya kegiatan buka puasa bersama ini komunikasi dan siturahmi dan sinergi kita akan tetap terjalin,” katanya.
Ia menjelaskan BPMA dalam menjalankan tugasnya membutuhkan dukungan kebijakan dari Pemerintah Aceh serta stabilitas dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“BPMA dalam kegiatannya tentu saja membutuhkan kebijakan dari bapak gubernur dan pemerintah Aceh. Kemudian butuh stabilitas dari forkopimda, juga butuh kolaborasi dengan dinas-dinas SKPA terkait,” jelasnya.
Menurut Nasri, instansi yang paling sering berkolaborasi dengan BPMA antara lain Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh serta Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA).
Saat ini, BPMA memiliki enam kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Aceh. Ia menyebut potensi minyak dan gas Aceh masih sangat besar.
“Saat ini BPMA memilihi 6 kontraktor kerja sama dan Alhamdulillah Aceh ini dilimpahi minyak dan gas yang luar biasa dari utara timur hingga barat selatan,” ungkapnya.
Nasri optimistis potensi tersebut dapat menjadi peluang untuk mengembalikan kejayaan industri migas Aceh seperti pada era 1990-an.
“Ini tentu saja peluang bagi kita agar kejayaan migas Aceh ini dapat kita kembalikan seperti era tahun 90,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan kabar positif terkait pengembangan blok migas baru di Aceh.
“Kabar gembira bahwa dua blok baru itu di atas wilayah Pidie dan Pidie Jaya yang dulunya bekas Repsol itu sudah diminati oleh dua perusahaan asal Jepang yaitu Japex dan Jogmec,” kata Nasri.
Menurutnya, proses pengembangan blok tersebut saat ini sedang berjalan di tingkat kementerian.
“InsyaAllah saat ini sedang berproses di kementerian, kita harapkan blok tersebut juga dapat dikembangkan dan memberikan kemakmuran sebesar besarnya untuk rakyat Aceh,” pungkasnya. []





