
*Tgk. Avicenna Al Maududdy, M. Hum
SAMALANGA, sebuah kecamatan kecil di pesisir timur Aceh, tak sekadar dikenal lewat sejarahnya sebagai daerah basis perjuangan atau wilayah agraris. Lebih dari itu, Samalanga menjelma sebagai episentrum pendidikan Islam tradisional yang menyimpan denyut spiritualitas tinggi masyarakat Aceh.
Julukan Kota Santri bukanlah sekadar label simbolik, melainkan realitas yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Dalam lintasan sejarahnya, Samalanga menjadi rumah bagi puluhan dayah dan pusat-pusat pengajian yang melahirkan ulama karismatik.
Tradisi ngaji kitabi, majelis ilmu, dan ketaatan terhadap ulama menjadi wajah khas daerah ini. Lingkungan sosialnya pun tumbuh dalam corak keberagamaan yang kuat, di mana suara azan, lantunan zikir, dan aktivitas pendidikan Islam menjadi denyut nadi yang menyatu dengan rutinitas warga.
Namun demikian, Kota Santri tak berarti Samalanga harus tertinggal dari arus kemajuan. Justru, di tengah geliat modernisasi dan digitalisasi, peran dayah dan lembaga pendidikan Islam menjadi semakin strategis.
Mereka bukan hanya penjaga warisan ilmu, tetapi juga agen transformasi sosial. Tantangannya kini adalah menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai fondasi pembangunan berbasis karakter dan moralitas.
Sebagai dosen yang telah banyak bersentuhan langsung dengan dinamika sosial-keagamaan di Samalanga khususnya, saya melihat bahwa kota ini memiliki potensi luar biasa sebagai poros peradaban Islam di Aceh.
Keberadaan lembaga pendidikan Islam yang mengakar kuat menjadi modal sosial yang tak ternilai. Namun, diperlukan upaya sinergis dari berbagai pihak pemerintah, akademisi, tokoh agama, dan generasi muda untuk mendorong transformasi tersebut agar lebih inklusif dan adaptif.
Perlu ada inovasi kurikulum yang mampu mengintegrasikan ilmu keislaman dengan kecakapan abad ke-21. Lebih dari sekadar mencetak hafiz atau faqih, Samalanga dapat menjadi pelopor lahirnya santri-santri yang juga melek teknologi, kritis, dan mampu berdialog dengan zaman.
Maka, julukan Kota Santri bukan hanya warisan, melainkan juga amanah sejarah untuk dijaga, diperbarui, dan diwariskan dalam wajah yang lebih progresif.
Realitas hari ini memperlihatkan bahwa generasi muda tak hanya hidup dalam dunia nyata, tetapi juga dunia digital. Maka, pembaruan metode dakwah, pengajaran, hingga pengelolaan dayah menjadi sangat mendesak.
Dengan demikian, nilai-nilai Islam yang diajarkan tak hanya menjadi ritual, tetapi juga mampu menuntun generasi muda menghadapi disrupsi sosial dan informasi.
Samalanga sebagai Kota Santri memiliki peluang emas menjadi pusat keilmuan Islam kontemporer yang tak hanya dihormati karena warisannya, tetapi juga karena terobosannya.
Kolaborasi antara dayah dengan perguruan tinggi, pelaku ekonomi kreatif, hingga pegiat sosial perlu terus diperkuat. Sebab pendidikan Islam sejatinya adalah pendidikan yang membebaskan, mencerahkan, dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sosial.
Selain itu, masyarakat Samalanga sendiri telah menunjukkan ketangguhan budaya yang luar biasa. Nilai-nilai solidaritas, kerja kolektif, dan penghormatan terhadap ilmu menjadi modal sosial yang tidak dimiliki oleh semua daerah. Potensi ini bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun basis ekonomi lokal yang berkelanjutan, berlandaskan nilai-nilai syariah, dan memperkuat daya tahan budaya dalam menghadapi homogenisasi global.
Membicarakan Samalanga hari ini bukan hanya tentang melihat masa lalu, tetapi juga tentang merancang masa depan. Masa depan yang tidak meninggalkan akar, tetapi juga tidak tertinggal dari gelombang kemajuan. Kota ini bisa menjadi model pembangunan daerah berbasis pesantren yang berorientasi pada kemajuan ilmu, spiritualitas, dan kemandirian.
Pada akhirnya, sebutan Kota Santri bukan hanya milik Samalanga dalam makna geografis. Ia adalah simbol harapan: bahwa di tengah kemajuan dunia yang begitu cepat dan sering kali kehilangan arah moral, masih ada tempat yang menjaga akal dan hati tetap selaras. Samalanga adalah cerminan dari itu—tempat di mana tradisi dan pembaruan saling menyapa, dan masa depan dibangun dengan dasar iman dan ilmu.
Jadi, Samalanga bukan hanya nama di peta. Ia adalah simbol harapan, penanda bahwa di tengah kemajuan zaman yang kadang membutakan nilai, masih ada ruang yang menjaga harmoni antara ilmu, iman, dan amal.
Menjaga Samalanga sebagai Kota Santri bukan hanya tanggung jawab masyarakatnya sendiri, melainkan juga menjadi panggilan moral bagi siapa saja yang peduli pada keberlangsungan peradaban Islam yang inklusif dan tercerahkan.
Kita percaya bahwa nilai-nilai luhur yang hidup di Samalanga akan terus menginspirasi generasi hari ini dan mendatang. Sebab Kota Santri sejati bukan hanya tempat berkumpulnya santri, melainkan tempat di mana ilmu menjadi cahaya, akhlak menjadi nafas, dan masa depan dibangun dari teladan masa lalu. []
*Penulis merupakan Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam/Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga





