KhazanahNewsSejarah

Panggilan dari Bugak

*Oleh: Ayu Muspika

TAK semua panggilan bisa terdengar langsung di telinga. Sejak kembali dari tanah suci ada sesuatu yang mengusik jiwa, tak hanya sekadar rindu yang menyepi. Makkah masih membekas dalam sanubari-gema azan, aroma ka’bah, sajadah-sajadah yang menjadi saksi atas air matanya. Ada bisik yang tak bisa dia pahami. Bukan mimpi, bukan pula ilusi. Dia seperti terpanggil oleh sesuatu yang tak tampak, tapi nyata sekali.

Panggilan itu datang dari bumi sendiri, terdapat sejarah yang tertanam rapih, dari tanah yang menyimpan jasad sang wali. Namanya Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, Habib Bugak, sang wali dari tanah suci.

Salman ingat betul saat pertama kali di lobi hotel, seorang muthawif bercerita sambil menunggu lift, dengan wajah teduh dan suara pelan-seakan menyampaikan rahasia, “hotel ini adalah wakaf dari seorang ulama yang makamnya terletak di Aceh, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi. Orang menyebutnya Habib Bugak.”

Sejak saat itu, nama itu tersimpan di memori. Mengendap, mengakar, seolah menanti untuk dikunjungi. Habib Bugak bukan hanya seorang tokoh, tapi simbol yang melintasi bentala. Sebuah cinta yang tidak terjamah kata. Jejaknya tak tercetak di aula, tapi tertanam dalam jiwa yang peka. Dia tak meninggi dalam puja, namun merendah dalam darma yang nyata.

Habib Bugak tidak memiliki darah Aceh, tapi jiwanya terpaut di sana. Datang dari Jazirah, mengemban titah dari Rasulullah. Berlayar jauh membawa risalah, tak kenal lelah, pun tak gentar oleh badai Samudra. Di tanah Peusangan dia menjejak, dan kini jasadnya menyatu dengan tanah Bugak, tanah yang menyambutnya dengan penuh suka.

***

Matahari condong ke barat saat Salman melintasi hamparan sawah yang mulai mengering. Asap dari Jerami yang dibakar mengepul di udara. Angin membawa bau tanah, laut, dan masa silam yang entah darimana datangnya. Suasana kampung yang lenggang, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang, hanya suara burung dan deru motor bebek tuanya yang terdengar.

Setelah beberapa kilometer, jalanan mulai berubah. Aspal yang semulanya halus kini berganti kerikil-kerikil tajam yang tersebar tanpa arah. Gigi motor dia turunkan, lajunya diperlambat. Di ujung jalan, di tengah hamparan sawah, tampah sebuah bangunan yang menyerupai meunasah, atapnya berwarna merah menaungi makam yang menyimpan sejarah, tempat Habib Bugak bersemanyam.

Salman memarkirkan motornya di samping pohon jambu yang tampak baru ditanam oleh penjaga makam. Langkahnya pelan menuju pintu masuk yang bertuliskan Makam Habib Bugak Aceh, dan di bawahnya tertera juga nama aslinya-Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi. Begitu kakinya menapaki tangga masuk, pandangannya langsung tertuju pada makam yang dibangun lebih tinggi, tempat tiga sajad bersemanyam.

Langkahnya pelan namun pasti, menghampiri nisan yang bertuliskan Habib Bugak dalam ruangan yang sakral dan suci. Memanjatkan doa dengan lirih, dia datang tak hanya membawa salam tetapi menyampaikan rindu yang telah lama terpendam. Seolah waktu berhenti, dia tak lagi melihat dunia seperti awalnya menatap. Pikirannya melayang ke tanah suci. Salman kembali teringat deretan jamaah haji yang diberikan uang saku sebanyak seribu empat ratus riyal. Bahkan setelah wafat, kebaikan Habib Bugak masih mengalir, menjelma dalam bentuk penginapan, makanan hangat dan berkah yang menyelimuti para tamu Allah.

Wakaf itu, Baitul Asyi pertama diikrarkan sekitar tahun 1809, dalam surat wasiatnya, Habib menyatakan bahwa hasil tanah dan bangunan di Makkah itu harus diberikan sepenuhnya untuk jamaah haji asal Aceh. Hingga kini Nadzir wakaf Habib Bugak di makah masih terus menjaga Amanah itu.

Salman masih terdiam di depan makam. Langkah pelan dan suara sapu yang bergesekan dengan tanah terdengat di belakangnya, dia menoleh. Seorang bapak-bapak dengan wajah teduh, kulit legam terbakar matahari, mengenakan baju koko pudar dan sarung batik, tengah membersihkan area makam. Salman berjalan menghampiri bapak tersebut, tak ada kesan tergesa, layaknya angin sore yang menyentuh tepi. “Bapak penjaga makam di sini ya?”

Bapak itu menghentikan aktivitasnya, menghela napas sembari menegakkan punggung yang mulai renta dimakan usia. Menatap sekilas langit jingga di balik pohon kelapa, “iya, sudah beberapa hari saya tidak datang, jadinya bapak rumpun liar yang mulai tumbuh,” menjeda sejenak ucapannya, suaranya terdengar begitu tenang, lalu dia menyandarkan sapunya ke tembok yang ada di dekatnya, mengelap keringat dengan ujung lengan baju, “baru pertama ke sini ya?” lanjut si Bapak.

Salman Mengangguk, “iya Pak, baru sempat datang setelah mendengar cerita Habib Bugak waktu haji.” Sang penjaga makam tersenyum. “Banyak yang datang ke sini karena merasa terpanggil. Dulu makam ini ga begini, di dinding sebelah kiri ada foto makam sebelum di renovasi. Hanya gundukan tanah tinggi, tanpa atap dan tak banyak yang peduli.” Salman menatap takjub bangunan sederhana itu.

“Baru di renovasi tahun 2018 kemarin,” kata si Bapak seraya mencabut rumput yang sudah mulai tumbuh dengan subur. “Bangunannya baru selesai 70 hari kemudian dan di resmikan pada januari 2019 sebagai cagar budaya, menjadi warisan yang dijaga bukan hanya di kenang dalam ingatan.

Bangunan Makam Habib Bugak. Dok. Salman

Angin berhembus masuk ke sela kancing bajunya, rasa ingin tahunya tak bisa lagi dia tahan. “Memangnya keluarga dari Habib Bugak tidak ikut andil dalam menjaga makamnya, Pak? Matanya berbinar menatap si Bapak, layaknya anak kecil menanti dibacakan dongeng sebelum tidur.

“Saya adalah generasi ke tujuh dari Habib Bugak.” Salman tercekat. Tak menyangka di senja yang kian menyingsing, dia bertemu dengan darah keturunan sang wali. “Nama saya Sayed Muzakir” Lanjutnya.

Salman tercekat, matanya kembali menatap ke arah pusara yang di bangun sedikit tinggi. “Maaf habib, sebelumnya saya tidak pernah tahu bahwa keturunan dari Habib Bugak masih ada di sini.”

Dia menunduk lama, disana bukan hanya sekedar gundukan tanah dan batu nisan, melainkan jejak yang di tinggal tanpa berharap balasan dari manusia, hanya berharap ridha dari sang pencipta. Dari tanah bugak Salman belajar, bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak Langkah tapi kemana Langkah itu membawa manfaat.

Dengan Langkah gontai salman meninggalkan pusara setelah pamit dengan Sayed Muzakir. Langit semakin orange, seperti terbakar rindu yang tak pernah selesai. Menaiki motornya, membelah rerumputan yang tumbuh tanpa suara. Ada yang pulih, bukan luka tapi cara memandang dunia. Ada yah tumbuh, tetapi bukan ambisi melainkan keinginan untuk berguna.

Malam itu, bintang tampak lebih banyak dari biasanya. Di bawah langit Aceh Salman belajar, Habib Bugak tidak hidup untuk dikenang, tetapi dikenang karena pernah benar-benar hidup.

***

Aku datang tanpa membawa apa-apa
Kecuali jiwa yang telah lama terluka
Di tanah ini kutemukan cahata
Dari Habib yang hadirnya tak pernah sirna
Bugak bukan hanya sekedar daerah
Tapi tempat hati menemukan maknanya

***

*Ayu Muspika | Juara Favorit 1 Ratu Baca Aceh 2024. Penulis dapat dihubungi melalui akun Instagram @ayumuspika8

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button