
Banda Aceh – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Syamsul Rijal, mendorong Pemerintah Aceh untuk lebih berani menawarkan potensi sumber daya alam sebagai destinasi wisata, khususnya dalam bentuk adventure tourism atau wisata petualangan.
Menurutnya, wisata petualangan memiliki nilai lebih karena menawarkan pengalaman yang menantang sekaligus memperkaya pengetahuan dan kesadaran lingkungan.
“Aceh punya potensi besar. Arung jeram di Aceh Tenggara dan Gayo Lues misalnya, jika dikemas dengan pendekatan budaya, bisa menjadi motor kesejahteraan rakyat, terutama masyarakat menengah ke bawah,” ujar Prof Syamsul kepada sudutberita.id, Selasa (3/6/2025).
Ia menambahkan, Aceh juga dikenal dengan ekosistem yang kaya flora dan fauna yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wisata keilmuan dan akademik.
Menurut Prof Syamsul, kalau ini dibuka dan dikemas secara serius, akan ada efek berganda (multiplier effect), baik dari sisi ekonomi, pendidikan, hingga pelestarian lingkungan.
Ketua Prodi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry ini juga menyinggung sejarah perjuangan Aceh yang erat kaitannya dengan hutan dan pegunungan. Menurutnya, titik-titik bekas lokasi gerilya masa konflik bisa dikembangkan menjadi objek wisata sejarah yang bernilai edukatif dan inspiratif.
“Bahkan bisa dibuat monumen di titik-titik tertentu sebagai bagian dari adventure tourism, yang tidak hanya menantang tetapi juga sarat nilai sejarah,” imbuh profesor kelahiran Aceh Tenggara itu.
Ia mencontohkan potensi wisata alam lain yang belum tergarap optimal seperti Guha Tujuh dan Lingkok Kuwieng di Pidie, serta Ujong Pancu di Aceh Besar.
“Ujong Pancu itu luar biasa. Di sebelah kiri ada makam ulama besar Hamzah Fansuri, di kanan ada laut yang jernih. Jika dibuka akses jalur pejalan kaki, tempat itu bisa jadi lokasi warga kota untuk rileks di akhir pekan, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga desa setempat,” ungkapnya.
Namun, pakar Filsafat Islam UIN Ar-Raniry ini mengingatkan, pengembangan wisata petualangan di Aceh harus dibarengi dengan kesadaran ekoteologis masyarakat.
“Ini soal bagaimana warga menjaga alam, menikmati dan melestarikannya, sambil menumbuhkan nilai ekonomi. Tantangannya juga ada dalam penerapan syariat Islam. Apakah objek wisata disalahgunakan untuk hal-hal negatif atau justru menjadi tempat tadabbur untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat alam semesta,” pungkasnya. []





