
Banda Aceh – Taman Bustanussalatin, sebuah kawasan ruang terbuka hijau yang melintang di tengah Kota Banda Aceh, mempesona dengan keindahan alam dan jejak sejarahnya. Dengan luas hampir tiga kali lapangan sepak bola, taman ini tidak hanya menjadi tempat bersantai yang nyaman di bawah naungan pepohonan rindang, tetapi juga berperan penting dalam merangkai kisah bersejarah Banda Aceh. Awalnya dikenal sebagai Taman Sari, namanya kemudian diubah menjadi Taman Bustanussalatin.
Berlokasi strategis, Taman Bustanussalatin dikelilingi oleh sejumlah lokasi wisata menarik lainnya, termasuk Museum Tsunami, Masjid Raya Baiturrahman, Makam Peucut Kerkhof, dan Balai Kota. Keberadaannya yang berdekatan dengan tempat-tempat penting ini membuat taman ini menjadi pusat daya tarik bagi warga setempat dan wisatawan.
Taman ini menawarkan udara segar dan keteduhan berkat pepohonan tinggi yang menjulang. Meskipun teriknya matahari, Taman Bustanussalatin tetap menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai, berkat suasana yang damai dan adem. Tak hanya itu, kawasan taman ini juga dilengkapi dengan jaringan WiFi gratis, memudahkan pengunjung untuk tetap terhubung dengan dunia maya.
Nama Bustanussalatin sendiri memiliki makna yang dalam. Merujuk pada riwayatnya, nama ini menggambarkan taman megah yang dibangun sebagai tempat rekreasi para sultan di era Kesultanan Aceh Darussalam. Taman ini, yang dulunya dikenal sebagai Taman Ghairah, dirancang oleh Sultan Iskandar Muda dengan tujuan menjadikan Banda Aceh Darussalam seperti Taman Firdaus. Selain fungsi rekreasi, taman ini juga memiliki nilai sejarah yang kuat, karena dulu merupakan bagian dari kompleks istana Kesultanan Aceh Darussalam.
Taman ini dulu memiliki luas yang lebih besar, meliputi kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Sari Gunongan, Pinto Khop, dan Kandang, yang berada di tepi aliran sungai Krueng Daroy. Pohon-pohon buah, bunga, dan sayuran tumbuh subur di dalam kawasan ini. Bangunan-bangunan seperti Krueng Darul Iski atau Krueng Daroy, Gunongan, Taman Putroe Phang, dan Kandang Sultan Iskandar Tsani pernah berdiri di dalamnya, memberikan hiburan bagi para sultan.
Tak lepas dari kaitannya dengan sejarah, nama Bustanussalatin juga terkait erat dengan naskah karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry atas permintaan Sultan Iskandar Tsani. Dalam naskah ini, keindahan istana Darud Dunya dan Taman Bustanussalatin dijelaskan dengan detail. Naskah ini memaparkan keagungan arsitektur bangunan, keindahan tanaman, serta sungai Krueng Daroy yang mengalir di dalam taman.
Namun, pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami menghancurkan taman ini. Pemulihan taman ini dimulai selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca-tsunami. Renovasi besar-besaran dilakukan, termasuk penambahan beberapa bangunan di dalam taman. Pada tahun 2017, setelah renovasi terakhir, taman ini berganti nama menjadi Taman Bustanussalatin.
Tidak hanya memperbaiki fasilitas yang ada, pada tahun 2018, sebuah panggung permanen dibangun di kawasan Taman Bustanussalatin. Keberadaan panggung ini didukung oleh Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai upaya untuk mempromosikan seni dan budaya lokal. Panggung ini menjadi tempat berbagai acara atraktif, baik dalam skala daerah, nasional, maupun internasional. Selain itu, langkah ini juga berkontribusi pada pemberdayaan pedagang kecil dan memajukan sektor pariwisata daerah.
Taman Bustanussalatin, dengan segala pesonanya, terus menjadi simbol penting dalam menjaga warisan sejarah dan keberlanjutan budaya Banda Aceh. Sebagai ruang terbuka hijau yang bersejarah, taman ini tidak hanya memberikan keindahan alam, tetapi juga menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menciptakan harmoni yang unik di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Ikon Wisata Banda Aceh
Saat masih menjabat sebagai Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman sempat mengunjungi Taman Bustanussalatin. Ia merencanakan untuk menempatkan kantor Dinas Pariwisata Banda Aceh di kompleks taman itu.
“Keberadaanya sangat strategis yaitu di pusat kota sehingga sangat cocok menjadi ikon tempat wisata,” kata Aminullah ketika itu.
Aminullah mengatakan bagian atas gedung di Taman Bustanussalatin nanti disediakan wisata kuliner. Para wisatawan yang berkunjung dapat menikmati pemandangan Masjid Raya Baiturrahman dari atas gedung.
“Wisatawan bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan Masjid Raya yang menawan,” ujar Aminullah.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Said Fauzan mengatakan gedung Bustanussalatin akan dibenahi serta bakal ada display atau tempat pemajangan produk pakaian adat dan souvenir khas Aceh yang sebelumnya berada di Rumah Budaya.
“Kita buat seapik mungkin,” katanya.
Karena gedung Bustanussalatin luas, sehingga dinilai dapat memudahkan para pelaku ekonomi kreatif dan sektor industri pariwisata melaksanakan kegiatan atau sanggar di Kota Banda Aceh.
“Tempatnya sangat strategis, sangat dekat dengan ikon Kota Banda Aceh yaitu Masjid Raya Baiturrahman dan akan kita jadikan pusat informasi wisata Banda Aceh,” ujar dia.
Bagaimana Menuju Taman Bustanussalatin?
Berada di pusat Kota Banda Aceh, mengunjungi Taman Bustanussalatin sangat mudah dilakukan wisatawan. Taman ini berada di depan Balai Kota Banda Aceh dan persis di Jalan Sultan Iskandar Muda yang tembus ke Ulee Lheue.
Kalau tidak memiliki kendaraan pribadi, pengunjung dapat menumpang kendaraan umum seperti Bus Transkutaraja, becak motor, atau angkutan umum berbasis aplikasi daring. Taman Bustanussalatin juga bisa menjadi titik awal wisatawan mengelilingi sejumlah tempat wisata di Banda Aceh dengan berjalan kaki.
Dari Taman Bustanussalatin, wisatawan bisa mengakses Masjid Raya Baiturrahman dengan jarak 200 meter ke arah utara. Sedangkan ke arah selatan, wisatawan dapat berkunjung ke Museum Tsunami Aceh dan kuburan penjajah Belanda dengan jarak kurang lebih 100 meter. Yuk ke Taman Bustanussalatin! []





