
Banda Aceh – Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST, mengajak para pelajar memanfaatkan media digital untuk menyebarkan konten positif dan edukatif.
Menurutnya, generasi muda tidak hanya perlu menjadi pengguna media sosial, tetapi juga harus mampu menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus membuka peluang ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Irwansyah saat membuka pelatihan konten kreator bagi siswa SMA/SMK se-Banda Aceh dan Aceh Besar di Aula BPS, Jumat (6/11).
Kegiatan itu menghadirkan sejumlah pemateri, yakni Awien Syuieb, Ety Rismanita, Vita Daud, Zoelmasry, Cut Nauval, Irhamni Malika, dan Teuku Iwan.
Dalam sambutannya, Irwansyah mengatakan profesi konten kreator merupakan salah satu bagian dari subsektor ekonomi kreatif yang perlu terus didorong dan dikembangkan. Terlebih, saat ini dunia tengah menghadapi perubahan besar dalam bidang ekonomi.
“Kreativitas, informasi, teknologi, dan kemampuan membangun pasar digital telah menjadi modal penting dalam menggerakkan perekonomian,” kata Irwansyah.
Dia mengungkapkan, berdasarkan data RPJM Kota Banda Aceh 2025-2029, terdapat 2.808 unit usaha ekonomi kreatif yang tercatat pada 2024. Usaha tersebut mencakup berbagai subsektor, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, aplikasi dan gim, fotografi, hingga film, animasi, dan video.
Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemanfaatan teknologi digital. Irwansyah mengutip data BPS tahun 2022 yang menunjukkan baru 18,40 persen usaha mikro dan kecil di Aceh menggunakan internet.
“Ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi digital kita masih sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Menurut Irwansyah, kondisi tersebut membuka ruang bagi para konten kreator untuk mengambil peran lebih luas. Mereka tidak cukup hanya membuat konten menarik atau mengejar popularitas di media sosial, tetapi juga harus mampu membantu pelaku UMKM memasarkan produk, mempromosikan pariwisata, serta memperkenalkan budaya dan kuliner Aceh.
Dengan begitu, konten digital dapat menjadi sarana untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
“Aceh tidak kekurangan potensi. Yang harus kita perkuat adalah kemampuan mengemas, mempromosikan, dan menghubungkan potensi tersebut dengan peluang ekonomi digital,” jelasnya.
Irwansyah juga berpesan agar para peserta membangun tiga karakter utama sebagai bekal menjadi konten kreator profesional.
Pertama, kreatif dan inovatif. Pelajar diharapkan tidak sekadar mengikuti tren, tetapi mampu menciptakan karya yang memiliki identitas dan nilai tambah.
Kedua, berintegritas dan bertanggung jawab. Menurutnya, popularitas tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebenaran. Sebab, konten yang berkualitas bukan hanya mampu menarik perhatian, tetapi juga membangun kepercayaan publik.
“Ketiga, produktif dan memiliki orientasi ekonomi. Jadikan kemampuan digital sebagai peluang membangun usaha, membantu UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan memperkenalkan produk unggulan Aceh ke pasar nasional bahkan internasional,” ungkapnya.
DPRK Banda Aceh berharap pelatihan dan kegiatan serupa dapat terus berkembang melalui kolaborasi pemerintah, media, komunitas kreatif, pelaku UMKM, dunia pendidikan, dan generasi muda.
“Kita ingin melahirkan konten kreator Aceh yang tidak hanya terkenal di media sosial, tetapi juga mampu menghasilkan karya berkualitas, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan membawa nama baik Aceh,” pungkas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. []





