BisnisNews

Buka 3.561 Rekening Emas dalam 7 Jam, BSI Catat Rekor MURI di Aceh

Banda Aceh – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui pembukaan rekening Tabungan Emas oleh sivitas akademika terbanyak. Sebanyak 3.561 nasabah berhasil membuka rekening emas dalam waktu tujuh jam di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Pemecahan rekor tersebut berlangsung pada Rabu (4/11), mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Capaian ini menjadi bukti tingginya antusiasme kalangan perguruan tinggi terhadap layanan keuangan syariah, khususnya investasi emas yang kini semakin mudah diakses.

Rekor MURI kategori “Pembukaan Rekening Emas oleh Sivitas Akademika Terbanyak” tersebut merupakan hasil kolaborasi BSI Regional 1 Aceh dengan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kegiatan ini turut didukung sejumlah kantor cabang BSI yang secara serentak memberikan pelayanan pembukaan rekening Tabungan Emas.

Direktur Compliance & Human Capital BSI, Arief Adhi Sanjaya, mengatakan pencapaian tersebut bukan sekadar upaya memecahkan rekor, melainkan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan syariah, terutama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, investasi emas dapat menjadi salah satu pilihan instrumen untuk membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat sejak dini.

“Kami bersyukur atas pencapaian yang mendapat pengakuan dari MURI ini. Bagi BSI, rekor ini bukan sekadar pencapaian angka, tetapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya perencanaan keuangan sejak dini. Emas dapat menjadi salah satu pilihan instrumen untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang secara bertahap,” ujar Arief.

Dia menilai lingkungan perguruan tinggi merupakan ekosistem strategis untuk meningkatkan literasi keuangan syariah. Karena itu, BSI terus mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan guna menghadirkan layanan keuangan yang mudah diakses, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.

BSI juga ingin mendorong mahasiswa dan seluruh sivitas akademika agar tidak hanya mengenal layanan perbankan syariah, tetapi juga memahami pentingnya mengelola keuangan dan membangun aset sejak usia muda.

“Kami ingin mahasiswa dan seluruh sivitas akademika tidak hanya semakin dekat dengan layanan perbankan syariah, tetapi juga memiliki pemahaman dan kebiasaan yang baik dalam mengelola keuangan serta membangun aset sejak dini. Melalui digitalisasi layanan emas BSI, masyarakat dapat mulai berinvestasi emas dengan nominal terjangkau dan mengelolanya secara lebih mudah,” lanjutnya.

Sementara itu, Regional Chief Executive Officer (RCEO) BSI Regional 1 Aceh, Imsak Ramadhan, menyebut keberhasilan membuka 3.561 rekening dalam tujuh jam menunjukkan kesiapan jaringan layanan dan infrastruktur digital BSI.

Menurutnya, dukungan teknologi digital, jaringan kantor cabang, serta kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry memungkinkan pelayanan dilakukan secara cepat dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Pencapaian ini menjadi bukti bahwa BSI memiliki kesiapan jaringan layanan dan infrastruktur digital yang sangat baik. Melalui dukungan teknologi digital, sinergi jaringan kantor cabang, serta kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry, kami mampu melayani pembukaan 3.561 rekening Tabungan Emas dalam waktu hanya tujuh jam. Ini menunjukkan bahwa layanan keuangan syariah BSI semakin mudah diakses dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk generasi muda di lingkungan perguruan tinggi,” ujar Imsak.

Dia menambahkan BSI Regional 1 Aceh akan terus memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas pemanfaatan layanan keuangan syariah sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Aceh.

Perkuat Ekosistem Bullion BSI

Pemecahan rekor MURI di UIN Ar-Raniry juga menjadi bagian dari strategi BSI memperkuat bisnis bank emas atau bullion bank. Perseroan terus mengembangkan ekosistem emas terintegrasi, mulai dari perdagangan dan simpanan emas, penitipan emas dengan fasilitas penyimpanan berstandar internasional, cicil emas, gadai emas, hingga produk BSI Gold.

Untuk segmen ritel, BSI memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin mulai berinvestasi emas dengan nominal terjangkau. Melalui aplikasi BYOND by BSI, masyarakat sudah bisa membeli emas mulai dari Rp 50 ribu.

Bisnis emas BSI juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Juni 2026, perseroan telah memperdagangkan 8,06 ton emas dan memiliki lebih dari 1,7 juta nasabah bullion.

Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dari bisnis emas hingga Oktober 2026 melonjak 420% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Adapun outstanding pembiayaan gadai dan cicil emas mencapai Rp 30,5 triliun atau tumbuh 80,5%.

Kanal digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnis tersebut. Melalui BYOND by BSI, nasabah semakin mudah mengakses layanan Tabungan Emas secara digital. Jumlah pengguna layanan Tabungan Emas melalui aplikasi tersebut telah tumbuh menjadi lebih dari 1,7 juta nasabah.

Pada 2026, BSI menargetkan lebih dari 2 juta pengguna BYOND by BSI melakukan transaksi emas.

Tak hanya menyasar segmen ritel, BSI juga memperluas ekosistem bullion untuk kalangan korporasi melalui BEWIZE Gold. Layanan tersebut resmi diluncurkan pada 27 Oktober 2026 dalam rangkaian BSI International Expo.

Melalui BEWIZE Gold, perusahaan dan institusi dapat membuka rekening emas secara online serta melakukan transaksi pembelian, penjualan, dan transfer emas yang terintegrasi dengan platform cash management BEWIZE by BSI.

Dalam pengembangan bisnis bullion, BSI telah mengantongi tiga izin dasar berdasarkan POJK Nomor 17 Tahun 2024, yakni kegiatan usaha jual beli emas, penitipan emas, dan simpanan emas. Perseroan juga tengah mengkaji pengembangan izin pembiayaan emas.

BSI memastikan seluruh transaksi emas memiliki underlying berupa emas fisik yang disimpan di fasilitas penyimpanan berstandar internasional. Selain itu, seluruh kegiatan tersebut telah memperoleh persetujuan Dewan Pengawas Syariah dan berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Arief mengatakan Aceh memiliki posisi strategis bagi BSI, terutama dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.

Dia berharap keberhasilan kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry dapat menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi dan inklusi investasi emas di lingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat luas.

“Aceh memiliki posisi yang sangat strategis bagi BSI, khususnya dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah. Kami berharap pencapaian bersama UIN Ar-Raniry ini menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi dan inklusi investasi emas di lingkungan perguruan tinggi serta masyarakat luas. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal emas sebagai komoditas, tetapi juga memahami perannya sebagai salah satu instrumen untuk membangun aset dan mewujudkan tujuan keuangan masa depan,” tutup Arief. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button