News

Ketum SMSI Dukung Muhammad Saman Maju Calon Ketua PWI Aceh

Banda Aceh – Ketua Umum (Ketum) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Muhammad Saman untuk maju sebagai calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh periode 2026-2031.

Pernyataan tersebut disampaikan Firdaus usai pelantikan Pengurus SMSI Provinsi Aceh periode 2026–2030 dan penyerahan SMSI Aceh Award 2026 yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, akhir pekan lalu.

Firdaus yang juga merupakan Dewan Penasihat PWI Pusat menilai Muhammad Saman memiliki rekam jejak yang cukup kuat, baik di lingkungan PWI maupun dalam organisasi perusahaan media siber.

Menurut Firdaus, pencalonan seseorang dalam sebuah organisasi profesi merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus diberikan ruang secara terbuka.

Karena itu, ia menegaskan tidak pernah membatasi siapa pun untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan PWI, termasuk Muhammad Saman selaku kader terbaik.

“Sebagai anggota PWI dan Penasihat PWI Pusat, saya tidak pernah membatasi siapa pun untuk mencalonkan diri,” kata Firdaus dalam keterangannya, Senin (7/9).

Ia bahkan secara tegas menyatakan dukungannya kepada Muhammad Saman.

“Apalagi Muhammad Saman, kader terbaik PWI dan SMSI Aceh. Saya dukung. Dan mudah-mudahan kawan-kawan SMSI Aceh bisa mendukung beliau,” ujarnya.

Dinilai Punya Rekam Jejak Organisasi

Dukungan Firdaus tersebut menjadi perhatian karena Muhammad Saman bukan sosok baru dalam dunia organisasi profesi kewartawanan dan perusahaan pers di Aceh.

Muhammad Saman saat ini dipercaya sebagai Wakil Ketua PWI Aceh Bidang Kesejahteraan.

Di organisasi perusahaan media, ia juga pernah dan masih dikenal aktif dalam berbagai kegiatan strategis SMSI Aceh.

Di antaranya sebagai Ketua Forum Pemred SMSI Aceh serta Wakil Ketua SMSI Aceh Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antar Lembaga.

Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Saman apabila benar-benar maju dalam pemilihan Ketua PWI Aceh mendatang.

Sementara itu, PWI Aceh sendiri tengah memasuki tahapan menuju Konferensi Provinsi (Konferprov) XIII. Berdasarkan informasi yang dimuat laman resmi PWI Aceh, Konferprov XIII PWI Aceh dijadwalkan berlangsung pada 20-22 November 2026.

Konferprov tersebut nantinya menjadi forum penting bagi anggota PWI Aceh untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih kepemimpinan baru untuk periode berikutnya.

Dukungan Firdaus terhadap Muhammad Saman untuk maju dalam kontestasi Ketua PWI Aceh bukan muncul dari ruang kosong. Saman sebelumnya menjadi salah satu figur yang terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan di internal SMSI Aceh.

Firdaus menegaskan bahwa PWI sebagai organisasi profesi wartawan harus memberikan ruang yang sehat bagi kader-kadernya untuk berkompetisi dan menawarkan gagasan.

Menurut dia, siapa pun yang memenuhi ketentuan organisasi memiliki hak untuk mencalonkan diri.

Karena itu, dukungan yang diberikan kepada Muhammad Saman lebih merupakan bentuk penilaian terhadap rekam jejak dan kapasitas kader.
“Saya tidak pernah membatasi siapapun untuk mencalonkan diri,” tegasnya.

Ia kemudian menyebut sosok Muhammad Saman sebagai salah satu kader yang memiliki pengalaman di dua organisasi sekaligus, yakni PWI dan SMSI.

“Apalagi Muhammad Saman, kader terbaik PWI dan SMSI Aceh,” ujar Firdaus.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan adanya harapan agar kader-kader yang aktif di lingkungan organisasi perusahaan pers dan organisasi profesi dapat terus mengambil bagian dalam proses regenerasi kepemimpinan pers di Aceh.

Dukungan SMSI Bisa Menjadi Kekuatan

Jika dukungan tersebut kemudian diikuti oleh dukungan dari jajaran SMSI Aceh, posisi Muhammad Saman berpotensi menjadi salah satu kekuatan penting dalam bursa calon Ketua PWI Aceh.

Apalagi SMSI merupakan organisasi perusahaan media siber yang memiliki jaringan luas di Aceh.

Pada pelantikan pemgurus SMSI Aceh, Firdaus menegaskan kekuatan SMSI berada pada jaringan perusahaan media yang tersebar di berbagai daerah.

Firdaus menyebut sekitar 3.500 perusahaan media siber tergabung dalam SMSI secara nasional. Ia juga menekankan pentingnya media menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional tanpa mengambil alih kewenangan aparat penegak hukum.

Dalam konteks Aceh, hubungan antara organisasi perusahaan pers dan organisasi profesi wartawan menjadi semakin penting di tengah perubahan industri media yang berlangsung cepat.

Sementara itu, dinamika menuju Konferprov XIII PWI Aceh diperkirakan akan semakin menghangat seiring munculnya nama-nama yang berpotensi maju sebagai calon ketua.

Kontestasi tersebut tidak hanya akan menjadi pertarungan figur, tetapi juga pertarungan gagasan mengenai masa depan organisasi wartawan tertua di Indonesia itu di Aceh.

PWI Aceh memiliki tantangan besar dalam meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat perlindungan profesi, menjaga independensi pers, serta memastikan organisasi tetap relevan menghadapi perubahan ekosistem media.

Dalam kondisi tersebut, munculnya figur dengan pengalaman lintas organisasi seperti Muhammad Saman menjadi bagian dari dinamika regenerasi kepemimpinan PWI Aceh.

Dukungan Firdaus juga memberikan sinyal bahwa kontestasi PWI Aceh ke depan tidak hanya mendapat perhatian dari kalangan internal PWI, tetapi juga dari organisasi perusahaan pers yang memiliki kepentingan besar terhadap kualitas dan profesionalisme wartawan.

Meski demikian, keputusan akhir mengenai kepemimpinan PWI Aceh tetap berada pada mekanisme organisasi dan peserta Konferprov sesuai ketentuan yang berlaku. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button