
Banda Aceh – Menimba ilmu di luar negeri menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus mengenal budaya baru. Pengalaman itu dirasakan Syafura La Djuna, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Taiwan.
Melalui program student exchange di National Quemoy University (NQU), Taiwan, Syafura menjalani pengalaman akademik dan budaya selama enam bulan, mulai September 2026 hingga Januari 2027.
Bagi Syafura, pendidikan bukan sekadar mempelajari teori, rumus akuntansi, atau angka-angka di dalam kelas. Lebih dari itu, pendidikan juga menjadi kesempatan untuk keluar dari zona nyaman, berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang berbeda, dan memahami sudut pandang baru.
“Pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita pelajari di dalam kelas, tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda,” kata Syafura.
Berangkat dari Aceh menuju Taiwan, Syafura membawa sejumlah target yang ingin dicapai. Dia ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mempelajari bahasa Mandarin, serta mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat setempat.
Namun, pengalaman tersebut bukan semata-mata tentang pencapaian akademik. Syafura juga ingin mengenal dirinya sendiri lebih jauh, termasuk menguji kemampuan beradaptasi dan membangun kepercayaan diri di lingkungan yang berbeda.
Belajar di Lingkungan Multikultural
Selama menjalani perkuliahan di NQU, Syafura merasakan suasana akademik yang berbeda. Lingkungan multikultural mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai negara, sehingga proses belajar tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan dosen.
Diskusi di kelas menjadi kesempatan untuk bertukar gagasan, menyampaikan pendapat, dan memahami perspektif dari latar belakang budaya yang beragam.
“Di Taiwan, saya ditantang untuk lebih aktif berkomunikasi, menyampaikan pendapat dalam bahasa Inggris, dan beradaptasi dengan lingkungan akademik baru. Diskusi kelas menjadi ajang saling belajar dari perbedaan perspektif masing-masing negara,” ujarnya.
Pengalaman tersebut juga membuat Syafura melihat bahwa setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan tersendiri. Menurutnya, USK dan NQU mempunyai pendekatan pendidikan yang dapat saling melengkapi.
Dia berharap pengetahuan dan pengalaman positif yang diperolehnya selama berada di Taiwan dapat dibagikan serta diterapkan ketika kembali ke kampus di Aceh.
Menghadapi Tantangan di Negeri Orang
Menjalani kehidupan di negara lain bukan tanpa kendala. Sebagai seorang Muslimah, Syafura perlu lebih cermat dalam memilih makanan halal untuk kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan bahasa Mandarin juga menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika harus berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat setempat. Di tengah proses adaptasi itu, rasa rindu terhadap keluarga dan suasana rumah di Aceh sesekali muncul.
Meski demikian, pengalaman tinggal di Taiwan juga menghadirkan momen menyenangkan yang mempererat hubungannya dengan teman-teman baru.
Salah satunya ketika Syafura mengikuti perayaan Mid-Autumn Festival bersama mahasiswa NQU. Dalam kegiatan tersebut, mereka menikmati kudapan khas, bermain gim, dan menghabiskan waktu bersama.
Bagi Syafura, kegiatan sederhana itu menjadi cara untuk mengenal budaya setempat sekaligus membangun kedekatan dengan mahasiswa dari latar belakang berbeda.
“Hal-hal sederhana seperti itu menjadi sangat berarti karena melalui kegiatan tersebut saya bisa mengenal budaya setempat sekaligus membangun kedekatan dengan teman-teman baru,” tuturnya.
Berbagai tantangan yang dihadapi selama di Taiwan perlahan membentuk kemandirian dan kedewasaannya. Syafura juga belajar menghadapi situasi baru dengan lebih percaya diri, meski belum sepenuhnya menguasai bahasa maupun kebiasaan setempat.
Pesan Syafura untuk Mahasiswa USK
Bagi Syafura, perubahan paling berarti selama mengikuti program pertukaran mahasiswa bukanlah jarak yang ditempuh dari Aceh ke Taiwan, melainkan perkembangan dirinya secara mental.
Dia menyadari bahwa proses bertumbuh tidak mengharuskan seseorang menguasai segala hal sejak awal. Keberanian untuk mencoba, bertanya, dan berkomunikasi menjadi bagian penting dari proses belajar.
“Terkadang, berkembang berarti berani berbicara meskipun bahasa kita belum sempurna, berani bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan tetap mencoba meskipun kita merasa belum sepenuhnya siap,” katanya.
Syafura berharap pengalamannya di Taiwan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa USK lainnya untuk berani mengambil kesempatan belajar di tingkat internasional.
Baginya, pengalaman di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi yang patut dibanggakan. Pengalaman tersebut juga membawa tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan dan mendorong mahasiswa lain agar tidak merasa rendah diri ketika menghadapi persaingan global.
Dia pun berpesan agar mahasiswa tidak menunggu sampai merasa sempurna untuk mencoba kesempatan baru.
“Jangan menunggu sampai merasa sempurna untuk mulai mencoba. Kesempatan internasional bukan hanya milik mereka yang sudah memiliki banyak pengalaman, tetapi juga milik mereka yang mau belajar, berusaha, dan berani mengambil kesempatan. Pengalaman internasional yang bermakna bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan setelah kembali,” pungkasnya. []





