News

Riset Dosen USK Ungkap 86% Anak di Aceh Alami Defisit Energi

Banda Aceh – Riset tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK) mengungkap persoalan pemenuhan gizi anak di Aceh masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebanyak 86,54% anak yang diteliti tercatat mengalami defisit energi harian, yakni tingkat kecukupan energi kurang dari 70%.

Temuan tersebut menunjukkan pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan makanan di sekolah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Edukasi gizi bagi ibu dan kondisi ekonomi keluarga juga menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Temuan itu merupakan bagian dari penelitian multidisiplin bertajuk “Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Status Gizi, Perilaku Konsumsi Pangan, dan Kesejahteraan Ekonomi Rumah Tangga: Perspektif Ibu di Aceh”.

Penelitian yang didanai melalui skema Penelitian USK Unggul-Berdampak tersebut melibatkan Dr. Ratna Mulyany, BACC., MSACC dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), bersama tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yakni Lydia Septa Desiyana, M.Si., Apt., Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm., Apt., Novi Reandy Sasmita, M.Sc., serta Dr. Meutia Faradilla, M.Si., Apt.

“Tim peneliti mengkaji kondisi gizi dan konsumsi pangan anak melalui sejumlah indikator. Di antaranya food recall, literasi gizi, persepsi ibu terhadap gizi dan ekonomi, asupan gizi aktual, serta kualitas konsumsi pangan harian anak,” kata Tedy Kurniawan Bakri, salah satu tim peneliti, Senin (12/10).

Mayoritas Anak Masih Kekurangan Asupan Energi

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah masih rendahnya kecukupan energi harian anak. Sebanyak 86,54% anak yang diteliti memiliki tingkat kecukupan energi di bawah 70%.

Selain itu, sebanyak 80,76% anak tercatat memiliki pola konsumsi pangan dalam kategori kurang, yakni kurang dari 1.800 gram per hari.

Dari sisi status gizi, kategori gizi baik memang mendominasi anak-anak dalam kelompok usia yang diteliti. Namun, tim peneliti juga menemukan anak yang masuk kategori gizi buruk dan gizi kurang.

Di sisi lain, terdapat pula anak dengan masalah gizi lebih hingga obesitas. Kondisi tersebut menunjukkan adanya beban ganda masalah gizi atau *double burden of malnutrition*, yakni ketika masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi sama-sama ditemukan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan gizi anak membutuhkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Literasi Gizi Ibu dan Kondisi Ekonomi Jadi Tantangan

Persoalan pemenuhan gizi anak juga berkaitan dengan pemahaman dan kondisi ekonomi keluarga, terutama ibu yang berperan dalam pengaturan konsumsi pangan rumah tangga.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu responden memiliki tingkat literasi gizi dalam kategori cukup. Meski demikian, pengetahuan dasar tersebut masih perlu diperkuat agar dapat diterapkan dalam penyusunan menu harian keluarga yang lebih beragam dan bergizi.

Tim peneliti juga mencatat sebanyak 31% ibu memiliki persepsi gizi dalam kategori rendah. Temuan ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam membangun pemahaman mengenai pentingnya mutu dan keragaman pangan bagi anak.

Selain itu, sekitar 37,25% ibu menilai kondisi ekonomi mereka berada dalam kategori rendah. Situasi tersebut dapat membatasi kemampuan keluarga dalam menyediakan bahan pangan berkualitas.

Kombinasi antara persepsi gizi yang rendah dan keterbatasan ekonomi menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan pemenuhan gizi anak.

Karena itu, intervensi melalui program makanan di sekolah perlu berjalan beriringan dengan edukasi gizi kepada ibu serta dukungan terhadap kemampuan ekonomi keluarga.

Data Penerima MBG dalam Penelitian

Dalam penelitian tersebut, mayoritas ibu responden memiliki satu anak penerima manfaat program MBG, yakni sebanyak 84 responden.

Sementara itu, 45 responden memiliki dua anak penerima MBG, 23 responden memiliki tiga anak, dan dua responden memiliki empat anak yang terdaftar sebagai penerima program tersebut.

Data tersebut menjadi bagian dari pemetaan kondisi rumah tangga yang dilakukan tim peneliti untuk melihat hubungan antara program MBG, perilaku konsumsi pangan, status gizi anak, dan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Penelitian ini juga mendukung komitmen USK terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut mencakup SDGs 2 tentang Tanpa Kelaparan, melalui perhatian terhadap kecukupan asupan dan ketahanan pangan anak; SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui kajian status gizi; SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan literasi gizi ibu dan keluarga; serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui dorongan terhadap pola konsumsi pangan yang berkualitas dan beragam.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan edukasi gizi dan intervensi pangan yang lebih tepat sasaran serta berkelanjutan.

Temuan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan keluarga dan lingkungan sekolah dalam mendukung pemenuhan gizi anak. Penyediaan makanan di sekolah perlu disertai pemahaman gizi yang memadai di rumah agar upaya peningkatan status kesehatan anak dapat berjalan lebih optimal dalam jangka panjang. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button