
Banda Aceh – Inovasi berbasis sumber daya lokal kembali mengantarkan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) ke panggung prestasi nasional. Tiga mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK, sukses menyabet Juara 2 pada ajang Kompetisi Sains Biologi yang diselenggarakan oleh Universitas Mulawarman, baru-baru ini.
Tim yang diketuai oleh Sarah Salsabil, dengan anggota Cut Dhinie Decita dan Naja Luthfia Nuha, mengusung karya ilmiah bertajuk “Bio-Responsive Smart Hydrogel Berbasis Polisakarida Rumput Laut Lokal dengan Indikator Visual Dini Infeksi untuk Penyembuhan Luka Diabetes”.
Ketua Tim, Sarah Salsabil, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari upaya mengoptimalkan potensi rumput laut lokal menjadi biomaterial kesehatan. Hydrogel yang mereka kembangkan tidak hanya berfungsi mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes, tetapi juga memiliki kemampuan unik dalam mendeteksi infeksi secara dini melalui perubahan visual.
“Kami mengintegrasikan aspek bioteknologi kesehatan dalam sistem bio-responsive. Mekanismenya memungkinkan adanya indikator visual yang bereaksi terhadap kondisi luka, sehingga infeksi dapat diketahui lebih awal,” ujar Sarah, Selasa (26/5).
Dalam penelitian ini, pembagian peran dilakukan secara spesifik untuk memperdalam kajian. Cut Dhinie Decita fokus pada studi karakteristik polisakarida rumput laut sebagai bahan dasar, sementara Naja Luthfia Nuha mendalami mekanisme sensor pada sistem hydrogel terhadap luka yang terinfeksi.
Prestasi ini mendapat apresiasi positif dari pihak fakultas. Keberhasilan ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa mahasiswa FMIPA USK mampu mentransformasikan teori sains dasar menjadi riset aplikatif yang relevan dengan kebutuhan medis masa depan.
Secara terpisah, pihak FMIPA USK menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan riset laboratorium dan pengembangan teknologi di berbagai sektor, mulai dari lingkungan hingga bioteknologi kesehatan. Inovasi smart hydrogel ini diharapkan menjadi pionir dalam pemanfaatan sumber daya lokal Indonesia sebagai material medis inovatif yang bernilai tinggi di tingkat nasional maupun internasional. []





