
Lhokseumawe – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Aceh menuntaskan kegiatan lifting kondensat terakhir tahun 2025 pada awal Desember.
Pengapalan tersebut berlangsung di tengah kondisi bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh serta berdampak langsung pada operasional hulu migas, khususnya di Aceh Utara dan Aceh Timur.
Lifting kondensat itu dilakukan untuk tujuan domestik sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan nasional ke Kilang TPPI Tuban. Pengapalan menggunakan kapal MT Supreme Star dengan total kargo mencapai 92.592,08 barel.
Jumlah tersebut terdiri atas 61.750 barel kondensat dari Wilayah Kerja (WK) Blok A dan 30.842,08 barel dari WK Blok B. Meski berlangsung dalam situasi darurat bencana alam yang memengaruhi akses dan aktivitas operasional, proses pengapalan tetap berjalan aman dan sesuai ketentuan.
Deputi Operasi BPMA, Muhammad Mulyawan, mengatakan total lifting kondensat sepanjang 2025 mencapai 608.599 barel. Kontribusi tersebut berasal dari Blok A sebesar 299.060 barel dan Blok B sebesar 309.538 barel.
“Secara kumulatif, capaian realisasi lifting kondensat tahun 2025 telah mencapai 100 persen dari target WP&B, dengan capaian Blok A sebesar 102 persen dan Blok B sebesar 98 persen,” kata Mulyawan.
Menurut Mulyawan, capaian tersebut tidak terlepas dari peran strategis fungsi komersialisasi dalam mengoptimalkan pengambilan stok kondensat bagian negara.
Optimalisasi dilakukan melalui pengambilan deadstock Blok A di tangki nominasi serta optimalisasi pengambilan stok kondensat bagian negara dari WK Blok B. Langkah itu ditempuh setelah koordinasi dan konsultasi dengan tim operasi untuk memastikan aspek keamanan dan kelayakan operasional.
Kepala BPMA, Nasri Djalal menilai pencapaian lifting kondensat 2025 diraih melalui berbagai tantangan, terutama pada periode akhir tahun. Ia menyoroti bencana banjir dan longsor di Aceh yang berdampak langsung terhadap seluruh KKKS dan memaksa sebagian kegiatan produksi dihentikan sementara.
“Capaian ini menjadi energi positif bagi kinerja migas Aceh di tengah kondisi yang penuh tantangan. Sinergi antara BPMA dan KKKS menjadi kunci agar kegiatan operasional tetap dapat berjalan,” ujarnya.
Nasri menambahkan, BPMA mendukung penuh upaya KKKS untuk segera memulihkan dan menstabilkan produksi pascagangguan operasional. Dengan demikian, produksi pada tahun mendatang dapat terjaga dan target lifting kembali tercapai secara optimal.
Berdasarkan konfirmasi kepada tim operasi, produksi dari Blok A dan Blok B telah kembali dilakukan setelah melalui sejumlah proses pemulihan. BPMA berharap kegiatan lifting ke depan dapat berlangsung konsisten sesuai rencana.
Adapun kegiatan produksi tahun 2026 telah ditetapkan melalui Work Planning & Budgeting (WP&B) masing-masing KKKS pada Oktober–November 2025 sebagai bagian dari upaya pemenuhan target produksi nasional. Dukungan seluruh pemangku kepentingan dan lapisan masyarakat dinilai penting untuk memastikan target tersebut dapat tercapai. []





