
Banda Aceh – Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2025 berada di kisaran 3,50-4,40% secara tahunan (year on year/yoy).
Hal ini menandakan ketahanan ekonomi daerah di tengah tekanan bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di provinsi tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini mengatakan, rangkaian bencana yang berdampak langsung pada lahan pertanian, jalur distribusi, serta fasilitas umum menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi Aceh tahun ini.
“Bencana hidrometeorologi memberikan tekanan cukup signifikan terhadap aktivitas ekonomi, khususnya pada sektor-sektor utama Aceh seperti pertanian dan perdagangan,” ujar Agus dalam Bincang-Bincang Media (BBM) di Banda Aceh, Rabu (21/1).
Meski demikian, kinerja ekonomi Aceh pada Triwulan III 2025 masih menunjukkan pertumbuhan 4,46% (yoy). Namun, capaian tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,04% dan Sumatera 4,90%.
Menurut Agus, perlambatan ini bersifat temporer, seiring dengan terganggunya rantai pasok dan aktivitas produksi akibat kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak.
Dari sisi lapangan usaha, BI mencatat sektor pertanian yang menyumbang sekitar 32,03% terhadap PDRB Aceh mengalami tekanan paling besar, disusul perdagangan (14,75%) dan transportasi (7,38%).
Penurunan kinerja sektor-sektor tersebut juga berdampak pada sisi pengeluaran, terutama konsumsi rumah tangga dan ekspor.
“Penurunan konsumsi rumah tangga dan ekspor menjadi konsekuensi lanjutan dari terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak bencana,” jelas Agus.
Data BI menunjukkan, bencana hidrometeorologi telah menyebabkan kerusakan pada lebih dari 141 ribu rumah, ratusan fasilitas transportasi, ribuan titik jalan, serta ribuan hektare lahan sawah. Kondisi ini menambah beban pemulihan ekonomi daerah dalam jangka pendek.
Namun demikian, Agus menegaskan bahwa prospek pemulihan ekonomi Aceh tetap terbuka, terutama jika didukung percepatan rehabilitasi infrastruktur, pemulihan sektor pertanian, serta penguatan distribusi dan logistik.
Untuk 2026, BI memperkirakan ekonomi Aceh berpotensi tumbuh lebih tinggi di kisaran 4,50%, seiring meredanya dampak bencana dan membaiknya aktivitas ekonomi.
“Fokus ke depan adalah menjaga stabilitas, mempercepat pemulihan sektor produktif, dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Agus. []





