News

Dekan FAH UIN Ar-Raniry: ‘Surat Kaleng 1949’ Jadi Benih Perubahan Sejarah

Banda Aceh – Film dokumenter Surat Kaleng 1949 karya Aceh Documentary menjadi bahan diskusi mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Pemutaran film dan diskusi digelar di Library Theater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Rabu (7/9/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FAH bersama DEMA FISIP UIN Ar-Raniry.

Film Surat Kaleng 1949 mengangkat peran saluran komunikasi rahasia dan media di Aceh saat Agresi Militer Belanda II pada 1949.

Di tengah klaim Belanda bahwa Republik Indonesia telah runtuh, informasi dari Aceh justru berhasil diteruskan ke dunia internasional untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih bertahan.

Dekan FAH UIN Ar-Raniry, Syarifuddin MA PhD mengatakan judul Surat Kaleng 1949 memiliki makna filosofis. Menurut dia, pesan rahasia yang tampak sederhana dapat menjadi pemicu perubahan besar dalam sejarah.

“Surat kaleng menjadi analogi benih kecil yang mampu memicu perubahan sejarah besar,” kata Syarifuddin dalam diskusi tersebut.

Menurut Syarifuddin, film sejarah tidak cukup ditonton sebagai hiburan atau informasi semata. Mahasiswa perlu membandingkan narasi dalam film dengan arsip dan hasil penelitian agar sejarah dipahami secara kritis.

“Perpustakaan adalah cermin yang memantulkan kehidupan para pendirinya. Pertemuan antara film, arsip, dan diskusi di perpustakaan memperluas cara belajar kita dalam merawat ingatan sejarah,” ujarnya.

Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan FISIP UIN Ar-Raniry, Dr Saifullah Maysa, mengatakan penggunaan media audio-visual dapat menjadi metode pembelajaran sejarah yang lebih dekat dengan mahasiswa.

Menurut dia, sejarah perjuangan Aceh penting dipahami generasi muda, terutama calon pemimpin masa depan.

“Melalui media audio-visual ini, mahasiswa bisa melihat langsung catatan sejarah Aceh. Karakter pejuang yang diwariskan para indatu menjadi modal berharga bagi calon pemimpin masa depan,” kata Saifullah.

Subkoordinator Seksi Otomasi Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Nurul Kemala Hayati, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan Library Theater memang disiapkan untuk mendukung literasi visual masyarakat Aceh melalui pemutaran film edukatif.

“Literasi hari ini tidak hanya membaca buku. Melalui Library Theater, kami ingin memperkenalkan film-film edukatif berunsur sejarah, sosial, dan keagamaan untuk generasi muda,” ujarnya.

Ketua panitia, Fathin Rizqi Erasqal, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengapresiasi film sekaligus mendiskusikan isu sejarah yang diangkat.

Diskusi menghadirkan Ahmad Fauzan dan Mardani Malemi sebagai pemantik, dengan Muhammad Yufanza Rahfiansyah sebagai moderator.

Kegiatan turut dihadiri Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry Umar bin Abd. Azis. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button