NewsSosok

Dari Kebun Karet ke Gelar Doktor: Kisah Muis, Anak Petani dari Nagan Raya

Banda Aceh – Dari jalanan berlumpur di tengah perkebunan karet Desa Lamie, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, hingga podium akademik bergengsi di Universitas Negeri Makassar, inilah kisah inspiratif Muis, seorang anak petani yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari akar yang paling sederhana.

Muis, anak keenam dari tujuh bersaudara, lahir dari keluarga petani karet yang hidup bersahaja. Ayahnya, Tgk. Burhanuddin, tiap subuh menyusuri pohon demi pohon demi setetes getah untuk membeli beras. Ibunya, almarhumah Zainal, mengajarkan nilai syukur meski hanya dengan nasi dan garam.

Di rumah kecil berdinding papan, Muis tumbuh tanpa rak buku atau perpustakaan. Belajarnya hanya beralas lantai dingin, kadang ditemani lampu minyak. Ia harus mengulang kelas 1 dan 3 SD, menjadikan masa sekolah dasarnya 8 tahun penuh perjuangan.

Namun tekadnya tak pernah surut. Setiap pulang sekolah, ia menyaksikan ayahnya yang pulang penuh lumpur. Dari sanalah lahir janji dalam hati: “Saya harus keluar dari lingkaran kemiskinan ini. Saya harus jadi orang yang bisa bantu orang lain, terutama keluarga saya,” kata Muis dalam keterangannya, Rabu (28/5/2025).

Tamat SMP pada 2006, dilanjutkan ke Madrasah Aliyah, lalu kuliah S-1 pada 2009. Muis membiayai kuliahnya dengan bekerja serabutan: menjadi guru honorer, membantu di warung, hingga menjadi tukang fotokopi.

Setelah meraih gelar magister tahun 2016, ia menargetkan mimpi yang lebih tinggi: menjadi doktor. Namun jalannya tak mudah. Ia gagal dalam seleksi berbagai beasiswa, mulai dari BPPDN Kemenristekdikti, Aceh Carong jalur dosen, BAZNAS, hingga kembali gagal di Aceh Carong jalur umum.

Namun bagi Muis, kegagalan bukan alasan untuk menyerah. Ia terus mengajar, menulis, dan berdoa. Ia percaya, “Tuhan tidak buta pada usaha hamba-Nya.”

Pada 2021, titik balik itu datang. Dari ribuan pelamar Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemendikbudristek, nama Muis dinyatakan lulus. Ia diterima di Program Doktor Ilmu Administrasi Publik, Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan.

Tak ada pelukan sang ibu saat keberangkatan—ibunya telah tiada. Tapi ada pelukan hangat sang istri, Ns. Ellyza Fazlylawati, M.Kep., Sp.KMB, dan senyum anaknya, Azka Alfarizqi, yang menjadi semangat baru di tanah rantau.

Tiga tahun penuh perjuangan ia lewati. Hidup sederhana di perantauan, Muis menyelesaikan studi doktoralnya dengan semangat dan doa. Akhirnya, gelar doktor pun resmi diraih.

Kini, Muis mencatatkan sejarah sebagai orang pertama dari Desa Lamie yang meraih gelar doktor, putra Nagan Raya pertama yang bergelar Doktor Ilmu Administrasi Publik dan dosen pertama Universitas Al Washliyah Darussalam Banda Aceh yang meraih gelar doktor di bidang tersebut.

Muis bukan hanya seorang pendidik, tetapi simbol harapan bagi ribuan anak kampung lainnya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi.

“Saya hanyalah anak kampung biasa. Tapi saya percaya, anak petani pun bisa jadi doktor. Jika kamu punya mimpi, perjuangkan, meski jalanmu berduri. Sebab Tuhan tidak tidur dan tidak buta pada usaha hamba-Nya,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button