
Banda Aceh – Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, menyebut Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah sebagai sosok pekerja keras yang menunjukkan kepemimpinan nyata saat daerah dilanda bencana.
Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya dengan instruksi. Ia menilai Kapolda Aceh hadir langsung di tengah masyarakat ketika banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Tanah Rencong.
“Saya lihat sendiri bagaimana beliau memobilisasi personel, peralatan, dan memprioritaskan keselamatan warga. Bukan sekadar kunjungan seremonial; ini kerja lapangan yang total, beliau tipe pemimpin lapangan, bukan sekadar pemberi perintah,” kata Tgk Faisal yang berteman dekat dan pernah bekerja sama dengan jenderal bintang dua itu, Rabu (4/3).
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Dalam situasi darurat, Kapolda disebut tidak hanya memberi instruksi dari balik meja. Ia memantau langsung distribusi logistik, memastikan dapur umum berjalan, hingga mengawal proses evakuasi ke titik-titik terdampak yang sulit dijangkau.
“Beliau itu tipe pemimpin yang tidak ingin hanya menerima laporan. Harus melihat langsung kondisi di lapangan agar keputusan yang diambil tepat sasaran,” kata Ketua MPU Aceh.
Di luar penanganan kebencanaan, sejumlah capaian kinerja juga menjadi sorotan. Data kajian dari Jaringan Survei Inisiatif mencatat penurunan angka tindak pidana umum sebesar 14,9 persen. Sementara tingkat penyelesaian perkara meningkat dari sekitar 72 persen menjadi 82 persen.
Angka tersebut dinilai mencerminkan perbaikan efektivitas penyidikan dan koordinasi antar-satuan di lingkungan Polda Aceh.
Penindakan terhadap jaringan narkotika juga mendapat perhatian. Operasi besar pada Oktober 2025 berhasil membongkar jaringan lintas provinsi dengan barang bukti signifikan. Langkah ini dipandang sebagai bukti konsistensi dan intensitas penegakan hukum.
Apresiasi datang dari parlemen. Anggota Komisi III DPR RI, HT Ibrahim menyampaikan dukungan politik terhadap kinerja jajaran kepolisian daerah.
Ia menilai terdapat tren positif dalam penegakan hukum dan manajemen krisis yang memperkuat rasa aman masyarakat serta memberi ruang bagi pembangunan daerah.
Penegakan Hukum dan Lingkungan Jadi Pendekatan Adaptif
Tak hanya fokus pada aspek keamanan, program berbasis lingkungan juga menjadi bagian dari strategi yang dibangun. Inisiatif penanaman ribuan bibit mangrove serta penindakan terhadap praktik perusakan lingkungan dinilai sebagai upaya memperkuat kepercayaan publik.
Sejumlah media dan pengamat menilai perpaduan antara penegakan hukum, perhatian terhadap lingkungan, dan respons kebencanaan merupakan pendekatan adaptif yang menunjukkan kehadiran negara di tengah masyarakat.
Di akhir pernyataannya, Tgk. Faisal berharap capaian tersebut tidak berhenti pada momentum sesaat.
“Kerja keras beliau harus didukung bukan hanya apresiasi sesaat, tetapi juga dukungan kebijakan dan penguatan kapasitas agar manfaatnya berkelanjutan bagi masyarakat Aceh. Saya mengenal beliau sebagai pribadi yang konsisten dan tidak mudah berpuas diri. Semangat seperti ini yang dibutuhkan Aceh ke depan,” pungkasnya. []





